Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Senin, 07 Oktober 2013

ALLAH LAH YANG AKAN MERANGKUL MIMPI MU


Aira datang ke kelas denga tergopoh-gopoh, sepertinya ia terlambat. Heum, benar saja, saat ia tiba di depan pintu kelas, Dosennya tengah memberikan materi. Ia mengetuk pintu, mengucapkan salam perlahan “Assalamualaikum”  dan masuk dengan pelan. Sang dosen acuh saja, Aira bias menarik nafas lega dan segera duduk di kursi kosong yang masih tersedia, walau harus paling  belakang.
Pemaparan materi kali ini tentang “Hipotesis”, materi yang harus dihadapi dengan serius, bahkan sangat serius. Karena Aira sangat menyukai penelitian, ia tak ingin materi ini luput begitu saja tanpa perhatian penuh. Aira memejamkan matanya, yah meskipun terlambat, ia tak boleh menyesali  keterlambatannya, sudahlah itu masalalu, hadapi detik ini dengan pikiran yang penuh.
Aira mulai mendengarkan sang pemapar dengan hati-hati. Saat pemapar mengatakan bahwa dalam hipotesis terdapat dua kesalahan menurut Sugiyono, kesalahan tipe 1 dan tipe 2, Aira menjadi teringat sesuatu yang menggelitik hatinya. Ya Aira jadi teringat Andrea Hirata yang membagi penyakit dalam tipe-tipe, penyakit tipe 1 adalah fanatic terhadap suatu hal. Ah berbeda dengan Hipotesis tentunya, menurut Sugiyono kesalahan tipe 1  pada hipotesis adalah menolak hipotesis  Nol (Hipotesis yang benar), sedangkan kesalahan tipe 2 adalah menerima hipotesis yang salah L. Huftz seperti permainan jodoh saja J (Tapi masalah jodoh bukan permainan tentunya, karena telah terang dengan seterang-terangnya bahwa emas yang gemilau, permata yang indah, intan berlian yang mahal  HANYA diperuntukkan bagi Raja atau Ratu yang  bijaksana pula. Seperti dalam firman-Nya (Q S. An-Nur:26):
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
Ah, Aira berpikir panjang memang.
Aira merasa hidupnya pun seperti hipotesis-hipotesis, yang harus diuji dalam kenyataan. Ia boleh memiliki rangkaian mimpi dan harapan yang melambung, ia menamai itu dengan hipotesis mimpi. Tapi hipotesis mimpinya itu pun harus berada pada realitas, yang memiliki hubungan dengan kehidupan dan usahanya sekarang. Namun Aira yakin bahwa jika Allah telah berkehendak, apapun itu bukanlah KEMUSTAHILAN.
Seperti Buya Hamka katakan: “Pada akhirnya bukan kita yang menentukan hidup kita sendiri, melainkan Allah.”
Terkadang hipotesisnya  pun tak tepat, dengan berbagai pengaruh terkadang Aira pun melakukan kesalahan, kesalahan tipe 1 atau tipe 2. Menolak kebaikan dan malah menerima pengaruh buruk.
Ah, seperti inilah hakikat hidup. Jika bentengnya tak kuat, ia akan mudah terjerumus dalam urusan-urusan melenakan. Sedang Allah yang memberi penghidupan terlupakan. Naudzubillah himindalik, Aira bergidik.
Kelas telah lengang Aira menatap kedepan tak satu pun wajah temannya tersisa. Nampak di udara mengambang sebuah peringatan untuk Aira, Aira sang mahasiswa yang selalu percaya keajaiban.
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.*

Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.**
Aira begitu terpana dengan dua ayat ini, ia tak sanggup lagi menulis, air matanya sembab teringat dosa-dosa 21 tahun. Surat apakah ini, ayat berapakah ini? Adakah yang tahu? Aira mencari seseorang untuk memberinya jawaban. Tapi orang itu tak ada dan tak akan ada. Mungkin ada yang tahu?
Aira paham Allah lah yang membuat semesta hanya dalam 6 hari bahkan dengan sangat mudahnya membentangkan bumi, meninggikan langit tanpa tiang, membuat segala hal berpasang-pasangan. Ah apalagi dengan mimpi-mimpinya yang tidak sedahsyat itu, Allah pasti akan memudahkannya.
Allah lah yang akan merangkul mimpimu Aira. Semangat dan tersenyumlah. Keep  CIIs, Cerdas, Ikhlas,Istiqomah. Allahu Akbar! Aamiin.

Catatan penulis: Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat dan menjadi pengingat saat lara menyapa. Tetaplah menjadi yang terbaik. Keep tabassum J
·         * QS. Ar-Ra’d: 2
·         ** QS. Ar-Ra’d: 3
Salam penuh cinta untuk pejuang dakwah UPI Tasikmalaya. Dari seorang sahabat yang penuh cela, Az.

Minggu, 06 Oktober 2013

Mari Miliki Sifat Malu!


Islam adalah agama yang sempurna dan tidak satu perkara kecil pun melainkan telah diatur oleh Islam. Begitu pun dalam hal wanita, Islam telah mengaturnya. Islam sangat memperhatikan dan menempatkan para wanita sesuai dengan kedudukannya. Islam juga telah mengatur bagaimana adab-adab dalam bergaul, berpakaian, dan sebagainya. Di mana segala yang diperintahkan dan diatur oleh Allah dan Rasul-Nya pasti terdapat kebaikan dibalik itu semua, dan segala yang dilarang pasti ada keburukan.
Sungguh sangat menyedihkan, sedikit demi sedikit aturan yang telah dibuat oleh Allah dan Rasul-Nya dilanggar oleh kita, wanita. Di antara fenomena yang kita saksikan bersama, wanita dewasa ini mulai menanggalkan dan luntur sifat malunya. Mereka tidak merasa malu bergaul bebas dengan laki-laki! Bahkan yang lebih mengenaskan, banyak dari wanita yang berani mengumbar aurat (berpakaian tapi telanjang) di hadapan umum! inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un!
Lantas bagaimana pandangan Islam mengenai sifat malu bagi wanita?
Mari kita cermati kisah yang difirmankan Allah berikut ini,
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا
“Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (Al Qashash : 23-24)
Kita bisa melihat, bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. LALU BAGAIMANA DENGAN WANITA SAAT INI! Sepertinya rasa malu sudah hampir sirna ...
Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.’” (Al Qashash: 25).
Dengan penuh rasa malu, ia memanggil Musa. Sifat yang luar biasa ...
Ayat yang mulia ini,menjelaskan bagaimana seharusnya wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat. Rasa malunya berarti dengan menutupi dirinya dengan pakaian syar’i yang sempurna.
Maka wahai saudariku, mari kita sadar dari kelalaian ini. Kembali ke jalan Allah. Jangan kita tertipu dengan jebakan, bujukan, dan propaganda setan yang ingin mengeluarkan para wanita dari sifat keasliannya.
Hanya Allah yang memberi petunjuk. Semoga Allah anugerahkan pada kita sifat yang mulia ini. Aamiin.