Aira datang ke
kelas denga tergopoh-gopoh, sepertinya ia terlambat. Heum, benar saja, saat ia
tiba di depan pintu kelas, Dosennya tengah memberikan materi. Ia mengetuk pintu,
mengucapkan salam perlahan “Assalamualaikum” dan masuk dengan pelan. Sang dosen acuh saja,
Aira bias menarik nafas lega dan segera duduk di kursi kosong yang masih tersedia,
walau harus paling belakang.
Pemaparan materi
kali ini tentang “Hipotesis”, materi yang harus dihadapi dengan serius, bahkan
sangat serius. Karena Aira sangat menyukai penelitian, ia tak ingin materi ini
luput begitu saja tanpa perhatian penuh. Aira memejamkan matanya, yah meskipun
terlambat, ia tak boleh menyesali
keterlambatannya, sudahlah itu masalalu, hadapi detik ini dengan pikiran
yang penuh.
Aira mulai
mendengarkan sang pemapar dengan hati-hati. Saat pemapar mengatakan bahwa dalam
hipotesis terdapat dua kesalahan menurut Sugiyono, kesalahan tipe 1 dan tipe 2,
Aira menjadi teringat sesuatu yang menggelitik hatinya. Ya Aira jadi teringat
Andrea Hirata yang membagi penyakit dalam tipe-tipe, penyakit tipe 1 adalah fanatic
terhadap suatu hal. Ah berbeda dengan Hipotesis tentunya, menurut Sugiyono
kesalahan tipe 1 pada hipotesis adalah
menolak hipotesis Nol (Hipotesis yang
benar), sedangkan kesalahan tipe 2 adalah menerima hipotesis yang salah L. Huftz seperti permainan jodoh saja J (Tapi masalah jodoh bukan permainan tentunya,
karena telah terang dengan seterang-terangnya bahwa emas yang gemilau, permata
yang indah, intan berlian yang mahal HANYA diperuntukkan bagi Raja atau Ratu yang bijaksana pula. Seperti dalam firman-Nya (Q S.
An-Nur:26):
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan
laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka
ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
Ah, Aira berpikir panjang memang.
Aira merasa hidupnya pun seperti
hipotesis-hipotesis, yang harus diuji dalam kenyataan. Ia boleh memiliki
rangkaian mimpi dan harapan yang melambung, ia menamai itu dengan hipotesis
mimpi. Tapi hipotesis mimpinya itu pun harus berada pada realitas, yang
memiliki hubungan dengan kehidupan dan usahanya sekarang. Namun Aira yakin
bahwa jika Allah telah berkehendak, apapun itu bukanlah KEMUSTAHILAN.
Seperti Buya Hamka katakan: “Pada akhirnya
bukan kita yang menentukan hidup kita sendiri, melainkan Allah.”
Terkadang
hipotesisnya pun tak tepat, dengan
berbagai pengaruh terkadang Aira pun melakukan kesalahan, kesalahan tipe 1 atau
tipe 2. Menolak kebaikan dan malah menerima pengaruh buruk.
Ah, seperti
inilah hakikat hidup. Jika bentengnya tak kuat, ia akan mudah terjerumus dalam
urusan-urusan melenakan. Sedang Allah yang memberi penghidupan terlupakan.
Naudzubillah himindalik, Aira bergidik.
Kelas telah
lengang Aira menatap kedepan tak satu pun wajah temannya tersisa. Nampak di
udara mengambang sebuah peringatan untuk Aira, Aira sang mahasiswa yang selalu
percaya keajaiban.
Allah-lah
Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing
beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya),
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu)
dengan Tuhanmu.*
Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.**
Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.**
Aira begitu
terpana dengan dua ayat ini, ia tak sanggup lagi menulis, air matanya sembab
teringat dosa-dosa 21 tahun. Surat apakah ini, ayat berapakah ini? Adakah yang
tahu? Aira mencari seseorang untuk memberinya jawaban. Tapi orang itu tak ada
dan tak akan ada. Mungkin ada yang tahu?
Aira paham Allah
lah yang membuat semesta hanya dalam 6 hari bahkan dengan sangat mudahnya
membentangkan bumi, meninggikan langit tanpa tiang, membuat segala hal
berpasang-pasangan. Ah apalagi dengan mimpi-mimpinya yang tidak sedahsyat itu,
Allah pasti akan memudahkannya.
Allah lah yang
akan merangkul mimpimu Aira. Semangat dan tersenyumlah. Keep CIIs, Cerdas, Ikhlas,Istiqomah. Allahu Akbar!
Aamiin.
Catatan penulis: Mudah-mudahan cerita ini
bermanfaat dan menjadi pengingat saat lara menyapa. Tetaplah menjadi yang
terbaik. Keep tabassum J
·
* QS. Ar-Ra’d: 2
·
** QS. Ar-Ra’d: 3
Salam penuh cinta untuk pejuang dakwah UPI
Tasikmalaya. Dari seorang sahabat yang penuh cela, Az.


