Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Kamis, 06 Juni 2013


“ANTA MA’A MAM AHBABTA”
Bismillah Assalamualaikum saudaraku, bagaimana kabarnya hati kita hari ini? Lama tidak menulis lagi untuk menyapa saudara seiman dan seagamaku,  mudah-mudahan Allah selalu merahmati dan meridhai kita semua. Aamiin.
Segala puji terbaik dan terindah hanya tertuju pada-Nya Rabbul Izzati Allah SWT, Tuhan semesta alam. Tiada Illah yang wajib kita sembah, kita tuju, kita mintai pertolongan selain-Nya, Maha Besar Allah Yang Maha Mengabulkan.
Saudaraku mari kita lantunkan salam keselamatan dan kesejahteraan kepada Rasul kekasih Allah Muhammad SAW, putra Abdullah, buah hati Siti Aminah.  Allohuma Solli ‘Ala Muhammad, Wa a’la ali Muhammad, Kama Sollaita ‘Ala Ibrahim wa ‘Ala ali Ibrahim…
Berawal dari sebuah status penulis di akun jejaring sosial facebook:
 Seseorang akan berteman dengan orang yang jika ia bersamanya ia merasakan “nyaman”, sesuai dengan kapasitas kepribadian, dsb… (begitu maksud status itu).
Tiba-tiba seorang senior  mengomentari status tanpa sebab itu: “Anta ma ‘a mam ahbabta”. Dan yang mengomentari status itu hanya senior itu satu-satunya, sehingga terbetik untuk paham maksud dari komentarnya. Basic penulis bukan dari bahasa arab dan hanya tahu hanya beberapa patah kata saja seperti “hamasah atau semangat” “afwan atau maaf” “Laa atau tidak” “na’am atau ya/sudah” “Jazakalloh atau terimakasih” lain-lainnya masih meraba-raba dikamus.  Heum peenasaran sekali dengan maksud komentar ini, ada daya tarik tersendiri karena kalimat itu seperti pepatah arab, apa maksud dari kalimat ini? Rasa ingin tahu itu mendorong penulis untuk bertanya kepada seorang teman mengenai arti dari kalimat itu: “kamu bersama orang yang kamu cintai. (kira-kira itu terjemahnya)”
 Wah koK? Apalagi ini maksudnya? Rasa penasaran itu penulis simpan dengan mencatatnya dalam hati saja. Sampai suatu hari, melalui seorang teman lagi, ia membawa sebuah buku “Menjaga Kesucian Qalbu” buah karyanya seorang cendekiawan dari Iskandar. Dalam buku itu ternyata memberikan penjelasan-yang sejelas-jelasnya- bahwa kalimat “Anta ma’a  mam Ahbabta” adalah sabda Rosul. Subhanalloh, jadi malu, ummatnya ini begitu lalai dan dzalim. Astagfirullohal adzim. Mengapa Rasul bersabda demikian, dilatarbelakangi oleh seorang laki-laki mukmin yang mengatakan pada Rasululloh Muhammad SAW bahwa ia mencintai saudaranya karena Allah, Rasul bersabda “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai”, kemudian Anas ra (semoga Allah merahmatinya) yang mendengar sabda tersebut merasakan kebahagiaan yang sebenar-benarnya, karena ia mencintai Rasul, Abu Bakar As-Sidiq ra, Umar bin Khatab ra, Usman Bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, ia berharap kelak bersama-sama dalam syurga-Nya. Aamin.
Lalu hubungannya dengan status itu? Seseorang akan berteman dengan orang yang ia merasa nyaman sesuai kapasitasnya? Subhanalloh, seseorang akan bersama-sama dengan apa yang ia cintai. Jadi pertanyaannya adalah: Siapa yang Anda cintai?
Dunia
Atau
Allah dan Rasulnya.
Siapa yang menginginkan dunia Allah pasti memberinya dan mencukupkannya. Namun barang siapa menginginkan Akhirat, Rahmat Allah, dan pengampunan Allah maka itu lebih baik di sisi Allah. Sesungguhnya Azab Allah sangat-lah keras.
Saudaraku, yakinilah tanpa ragu sedikitpun bahwa kita pasti menemui Allah, baik dengan keadaan rela maupun terpaksa. Baik dalam keadaan sakit atau sehat, kaya atau miskin, tengah ta’at ataupun maksiat.
Allah SWT. dalam surat Al Baqarah ayat 28 berfirman:
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al Baqarah 28)
Namun situasi seperti apa yang kita harapkan saat Allah memanggil dan merindukan kita? Kita berharap  dan mari aamiin kan bersama, saat Allah memanggil, kita dalam keadaan taat dan taubat, sehingga Izrail menemui kita dalam ucapan salam dan senyuman. Khusnul Khotimah, Aamiin ya Mujib.
Saudaraku, yakinilah  sabda Rasul bahwa kita pasti bersama orang yang kita cintai, jika kita mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka tidakkah kita yaknin bahwa nanti kita akan bertemu Allah dan Rasullulloh dan bersama dalam rahmat Nya? Tidak kita memimpikan itu?
Seandainya hari ini, dunia lebih kita cintai sehingga melalaikan kita dari mencintai hal yang sepantasnya kita mencinta kepadanya, maka bersiaplah untuk terhina. Seorang pemuda yang tengah makan dengan lahap, seusai makan ia ditanya oleh Rasul: Akan jadi apakah nanti makanan yang kau telan itu wahai pemuda? Pemuda itu menjawab: Engkau lebih tahu ya Rasul. Beliau bersabda: Dunia lebih hina dari pada itu.
Masih mampukah kita mencintai hal yang lebih hina daripada “itu”? Betapa bodoh dan ruginya kita jika mengatakan “Ya”. Jika pertanyaan itu masih juga terasa hambar dihati kita dan seolah tidak bermakna dan tidak juga membuat airmata mengalir, maka menangislah, menangislah dan berdoa: “Duhai Allah Yang Maha Penyayang dan Pengampun, ampunilah dosa-dosaku yang menghalangiku dari menangis karena Mu, Wahai Rabbku paksa-lah hati ini untuk kembali pada ketaatan kepada Mu, ketika hamba putus asa dengan sipat-sipat ini, aku mohon Ya Allah berikanlah rasa nikmat kala bekhalwat dengan Mu, berikan rasa lezat saat sujudku kepada Mu. Jika Engkau membiarkan hati hamba gersang seperti ini, maka tiada lagi yang bisa menolongku selain pertolongan Engkau, ya Rabb yang Maha Mengetahui. Aamiin.
Cerdas, Ikhlas Istiqomah
Allahu Akbar!
AZ

Segalanya Bermula  Di Hati
Ada satu hal dalam diri manusia yang jika satu hal ini rusak maka rusaklah seluruhnya yang ada di diri itu. Ingatlah! satu hal itu adalah HATI.

Segalanya bermula dihati, maka hati-hatilah dengan hatimu. Ungkapan yang  terdengar sedikit nyeleneh tetapi itu benar adanya karena hati atau “Qalbu” kita ini pada hakikatnya suci dan sensitive terhadap hal-hal kecil yang dapat menodainya. Sekecil apaun nodanya kita harus cepat-cepat membersihkannya. Ingatlah! jangan dibiarkan menumpuk meskipun sebesar titik (.) jika di biarkan akan menjadi garis hitam dan setiap garis yang terkumpul lambat laun mampu menutupi seluruhnya. Kalau hati sudah menjadi hitam butuh tenaga ekstra untuk membersihkannya bahkan bisa-bisa menjadi keras dan pintu+mata hatinya bisa tertutup. Ih serem ya! naudzubillah.
 Nabi SAW Bersabda: sesungguhnya ketika seorang mukmin berbuat dosa maka dalam hatinya timbul satu noda hitam. Ketika ia tobat, jera dan beristighfar, maka hatinya mengkilap kembali. Jika tambah dosanya maka tambah pula noda hitamnya sehingga megunci hatinya. Itulah yang dimaksud dengan penutupan yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya : Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang mereka  usahakan itu menutupi hati mereka. (H.R Tirmidzi)
Sahabat, maka dari itu kita mesti waspada nih kepada hal-hal yang bisa menodai hati. Pasti sahabat pembaca sudah tahu kan apa saja. Yuk kita dikte sama-sama. Yang pertama 3 huruf yang mengerogoti hati aialah IRI Sifat ini membuat kita selalu merasa tidak senang dengan kesenangan, kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan orang lain. Kita pun cenderung berusaha menyaingi orang itu denga

n berbagai cara. Bahkan, terkadang kita ingin merusak kesenangan itu. “Ko dia IP nya guede ya (segede-gedenya juga 4, he), jangan-jangan ada apa-apanya lagi sama dosen ****** ” Waah jangan sampai kita demikian ya, mending ngelist kekurangan kita apa lalu perbaiki deh. Tunggu dulu tapi kalau iri melihat orang yang selalu menebar kebaikan sih boleh-boleh saja. So’ Kalau orang lain bisa kenapa kita tidak^^
Next ke yang kedua Provokatif (dalam hal negatif) memengaruhi orang lain melakukan tindakan yang kurang baik. Nah yang ini contohnya “ udah jangan belajar, mending besok liat jawaban punya Rasti aja kan doi pinter tuh!!”. Yang satu ini bukannya  siap-siap belajar untuk UAS malah nyari temen untuk join bersalah-salah ria. Yang lebih ekstrim malah ngeprovokasi dua pihak bahkan lebih atau hal ini tenar dengan sebutan adu domba (eits…bukan domba garut ya..) wah bisa-bisa terjadi pecah belah nih. Right! Kita hindari ya.
Lalu yang ketiga Berburuk sangka kalau sifat yang ini  selalu mencurigai atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas
misal: .Nah yang mau UAS nih ada kerumunan yang lagi duduk di bawah pohon ridang sayup-sayup terdengar “Lah, paling dikasih nilai B” aduh neng atau a itu mah Alhamdulillah, redaksinya ganti deh “Mudah-mudahan dapat B atau A” dari perkataan yang sia-sia menjadi do’a.
Nah loh… jika merasa hasil yang didapatkan kurang maksimal bukan berarti sudah taqdir dari sananya. Siapa tahu dibalik ketidak berhasilan itu kita sedang dididik untuk lebih meningkatkan uasaha kita. dan setelah kita meningkatkan ikhtiar hasil yang diperoleh melebihi dari yang lain.  Tuh kan, makanya No Suudzon yes khusnudzon ok!

Kenapa ya contohnya tentang UAS terus? Karena tinggal hitungan hari bahkan jam teman-teman mau UAS kan. Ada tips Agar UAS tidak menimbulkan noda di hati
    Usaha dengan belajar yang tekun
usAha dengan berdoa
 uSaha dengan Jujur
periapkan dengan matang, berikan yang terbaik untuk keluarga, agama, nusa dan bangsa.

Kembali ke bahasan, Nah itulah sifat-sifat yang dapat menodai hati, sebenarnya masih banyak lagi seperti ingkar janji, menebar fitnah bergunjing dll (Sahabat pembaca lebih tahu). Ibaratkan kita memiliki baju warnanya putih bersih, ketika kecipratan lumpur satu titik maka cepat-cepat kita akan membersihkannya. Cara kita membersihkannya pun tidak asal-asalan misalnya pakai detergen agar nodanya benar-benar hilang. Aplikasikan itu pada hati kita (sama-sama berusaha) jika ternoda segera beristighfar memohon ampun dan taubatan nasuha. “………dan Allah akan memberikan taubat-Nya kepada siapa yang Allah kehendaki.” (at-Taubah: 15)
jika noda di hati terlalu tebal maka timbulah malas untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah SWT, terasa berat melangkahkan kaki ke majelis ta’lim dsb. Jangan biarkan noda itu menumpuk karena jika hati rusak maka rusaklah semua yang ada pada diri kita, Masih ingat lagu ini? Jagalah hati jangan Kau Nodai, jagalah hati lentera hidup ini….


Fastabiqul Khoirot,mohon maaf atas segala kesalahan,
Keep Cerdas, Ikhlas, Istiqomah
Allahu Akbar!
(RA2)   

“Jika matamu sakit maka engkau segera mengobatinya sengan mengeluarkan sejumlah harta supaya engakau tetap bisa melihat keindahan-keindahan dunia. Padahal mata hatimu sakit selama bertahun-tahunt tapi engkau tidak mengobatinya dan tidak bersedihh kerenanya dan engkau tidak mencari dokter iman untuk mengobatinya ( Ibnu Athaillah)”

Minggu, 02 Juni 2013

Kita = Tukang Sampah

Sampah…
Semua orang pasti mengetahuinya. Sebuah kata banyak makna. Sebuah kata yang “mungkin” membuat orang merasa jijik. Sebuah kata yang dapat memberikan dampak buruk atau bahkan menjadi ladang pahala.

Menurut KBBI sampah memiliki dua arti. Arti pertama bermakna kata benda, sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan sebagainya; kotoran seperti daun, kertas. Arti kedua bermakna kata sifat, sampah adalah suatu kehinaan. Sampah pada arti kedua ini biasanya dipakai untuk melengkapi kata lain yang bermakna konotasi. Misalnya pada kata sampah masyarakat.

Sampah yang akan saya bahas lebih dikerucutkan kepada sampah bermakna kata benda, seperti sampah plastik bekas makanan, dsb. Kenapa? Karena sepertinya sampah ringan ini dianggap sepele, dibuang di mana saja pun tidak jadi masalah.  Merasa atau tidak, kini budaya buang sampah pada tempatnya sudah sangat luntur “tercuci” gengsi, atau memang sudah tidak peduli dengan kebersihan lingkungan? Resah, sangat meresahkan.

Miris sekali ketika ada orang yang biasssa saja, tanpa beban, tanpa rasa tanggung jawab, tanpa rasa malu, “saenake dewek” buang sampah di mana saja. Lebih miris lagi jika orang-orang itu adalah orang intelek, berpendidikan, tahu aturan. Yaah, jangan jauh-jauh ­lah yaa. Kita saja yang berstatus mahasiswa masih banyak tuuh kayanya yang cuek bebek terhadap sampah. Coba gera kita lihat ke setiap kelas sebelum dan setelah kuliah, sudah pasti dan tidak diragukan lagi akan kita temukan sampah-sampah berbaris rapi di bawah kursi. Bisa juga kita temukan sampah-sampah yang sedang menari di tengah kelas. Wah, pemandangan indah yang bisa kita nikmati dengan gratis setiap hari!
(jleebbb -_-)

Heran, sungguh sangat heran. Sampah yang menari-nari dan berbaris rapi itu tidak ada satu pun orang yang ikhlas mengantarkannya ke rumah mereka (red. tong sampah). Banyak mahasiswa yang suka kebersihan tetapi buang sampah masih tetap semaunya (diselipkan di bawah kursi, di simpan di dekat jendela, dll). Ada juga mereka yang jijik kalau melihat sampah berlari-lari di tengah kelas tetapi kebanyakan mereka tidak mau ambil tindakan. Jika membaca dari mimik muka dan hatinya siiihh seperti yang tidak mau cape sendiri, “Enak aaaja, gue cape-cape bersihin orang lain yang ngotorin, enak di elo ga enak di gue dooong.”

Kembali bertanya, apakah kesadaran peduli lingkungan dari orang-orang intelek ini sudah pupus terhapus penghapus zaman? Gengsi kah? Malu kah? Takut dikatain udik kah? atau hanya sekadar lupa? Husnudzan, mereka “memang” lupa untuk membuang sampah pada tempatnya. Yaa, mudah-mudahan hanya lupa. Jika lupa berarti harus ada yang mengingatkan. Sebenarnya banyak dosen-dosen luar biasa yang sudah dan selalu mengingatkan kita untuk menjaga kebersihan kelas. Salah satunya membuang sampah pada tempatnya. Pihak lembaga pun sudah sangat baik menyediakan rumah untuk sampah di setiap kelas, namun yaa itu tadi mahasiswanya “kelupaan”.

Kebersihan lingkungan seluruhnya dan di kelas khususnya bukanlah kewajiban suatu pihak/lembaga. Sekali lagi bukan hanya kewajiban tukang sapu, petugas kebersihan, ataupun lembaga yang menangani sampah (lembaga ini di Kota Tasikmalaya khususnya adalah Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan). Ini adalah kewajiban kita bersama. Menjaga lingkungan di mana pun kaki kita berpijak di bumi cinta-Nya.
Jadi ingat rumus 3M dari Aa Gym:
1.         Mulai dari diri sendiri (Yuuk belajar bersama membuang sampah pada tempatnya! Jika tidak ada tong sampah terus pegang sampah itu sampai menemukannya ^_^)
2.      Mulai dari hal terkecil (Seperti yang telah saya paparkan sebelumnya, masalah buang sampah pada tempatnya ini dianggap sepele, padahal dari hal yang sepele lah sesuatu yang besar akan muncul. Maka dari itu, yuuk kita biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya, meskipun hanya secuil plastik. Tidak sulit kok, ketika itu sudah menjadi kebiasaan baik ^_^)
3.      Mulai dari saat ini (Mau nunggu sampai kapan membiasakan buang sampah pada tempatnya? Sampai kejadian banjir baru tersadar kalau buang sampah pada tempatnya ini sangat penting. Nggak kan? Udah deh ayo mulai dari saat ini juga kita biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya)

Ada lagi niiih satu rumus dari Aa Gym juga, katanya mari kita budayakan TSP! Apa itu TSP?
T= Tahan dari buang sampah sembarangan
S= Simpan sampah pada tempatnya
P= Pungut sampah insyaAllah jadi sedekah

Tekadkan bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan. Bersih itu iman, karena kebersihan sebagian dari iman. Minimal kelas masing-masing dulu deehh. Supaya enak gituu dilihatnya.  J
Terakhir,
Tukang sampah bukan tukang sampah.
Tukang sampah adalah tukang “BERSIH”.
Karena predikat tukang sampah lebih layak disematkan kepada orang-orang yang selalu membuang sampah sembarangan.

Hayoooo loohh, mau dikatain tukang sampah??? :D

Mohon maaf bila ada kesalahan.
Tidak ada sedikit pun niat untuk nyinyir.
Ini asli dalam rangka saling mengingatkan ^_^
Mudah-mudahan bermanfaat.

A.I.