“ANTA MA’A MAM AHBABTA”
Bismillah Assalamualaikum saudaraku, bagaimana kabarnya hati
kita hari ini? Lama tidak menulis lagi untuk menyapa saudara seiman dan
seagamaku, mudah-mudahan Allah selalu
merahmati dan meridhai kita semua. Aamiin.
Segala puji terbaik dan terindah hanya tertuju pada-Nya Rabbul
Izzati Allah SWT, Tuhan semesta alam. Tiada Illah yang wajib kita sembah, kita
tuju, kita mintai pertolongan selain-Nya, Maha Besar Allah Yang Maha
Mengabulkan.
Saudaraku mari kita lantunkan salam keselamatan dan
kesejahteraan kepada Rasul kekasih Allah Muhammad SAW, putra Abdullah, buah
hati Siti Aminah. Allohuma Solli ‘Ala
Muhammad, Wa a’la ali Muhammad, Kama Sollaita ‘Ala Ibrahim wa ‘Ala ali Ibrahim…
Berawal dari sebuah status penulis di akun jejaring sosial facebook:
Seseorang akan berteman
dengan orang yang jika ia bersamanya ia merasakan “nyaman”, sesuai dengan
kapasitas kepribadian, dsb… (begitu maksud status itu).
Tiba-tiba seorang senior
mengomentari status tanpa sebab itu: “Anta ma ‘a mam ahbabta”. Dan yang
mengomentari status itu hanya senior itu satu-satunya, sehingga terbetik untuk
paham maksud dari komentarnya. Basic penulis bukan dari bahasa arab dan hanya
tahu hanya beberapa patah kata saja seperti “hamasah atau semangat” “afwan atau
maaf” “Laa atau tidak” “na’am atau ya/sudah” “Jazakalloh atau terimakasih”
lain-lainnya masih meraba-raba dikamus.
Heum peenasaran sekali dengan maksud komentar ini, ada daya tarik
tersendiri karena kalimat itu seperti pepatah arab, apa maksud dari kalimat
ini? Rasa ingin tahu itu mendorong penulis untuk bertanya kepada seorang teman
mengenai arti dari kalimat itu: “kamu bersama orang yang kamu cintai.
(kira-kira itu terjemahnya)”
Wah koK? Apalagi ini
maksudnya? Rasa penasaran itu penulis simpan dengan mencatatnya dalam hati
saja. Sampai suatu hari, melalui seorang teman lagi, ia membawa sebuah buku
“Menjaga Kesucian Qalbu” buah karyanya seorang cendekiawan dari Iskandar. Dalam
buku itu ternyata memberikan penjelasan-yang sejelas-jelasnya- bahwa kalimat
“Anta ma’a mam Ahbabta” adalah sabda
Rosul. Subhanalloh, jadi malu, ummatnya ini begitu lalai dan dzalim.
Astagfirullohal adzim. Mengapa Rasul bersabda demikian, dilatarbelakangi oleh
seorang laki-laki mukmin yang mengatakan pada Rasululloh Muhammad SAW bahwa ia mencintai
saudaranya karena Allah, Rasul bersabda “Kamu akan bersama orang yang kamu
cintai”, kemudian Anas ra (semoga Allah merahmatinya) yang mendengar sabda
tersebut merasakan kebahagiaan yang sebenar-benarnya, karena ia mencintai
Rasul, Abu Bakar As-Sidiq ra, Umar bin Khatab ra, Usman Bin Affan ra, Ali bin
Abi Thalib ra, ia berharap kelak bersama-sama dalam syurga-Nya. Aamin.
Lalu hubungannya dengan status itu? Seseorang akan berteman
dengan orang yang ia merasa nyaman sesuai kapasitasnya? Subhanalloh, seseorang
akan bersama-sama dengan apa yang ia cintai. Jadi pertanyaannya adalah: Siapa
yang Anda cintai?
Dunia
Atau
Allah dan Rasulnya.
Siapa yang menginginkan dunia Allah pasti memberinya dan
mencukupkannya. Namun barang siapa menginginkan Akhirat, Rahmat Allah, dan
pengampunan Allah maka itu lebih baik di sisi Allah. Sesungguhnya Azab Allah
sangat-lah keras.
Saudaraku, yakinilah tanpa ragu sedikitpun bahwa kita pasti
menemui Allah, baik dengan keadaan rela maupun terpaksa. Baik dalam keadaan
sakit atau sehat, kaya atau miskin, tengah ta’at ataupun maksiat.
Allah SWT. dalam surat Al Baqarah ayat 28 berfirman:
Mengapa kamu kafir
kepada Allah, padahal kamu
tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan
dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al Baqarah
28)
Namun situasi seperti apa yang kita harapkan saat Allah
memanggil dan merindukan kita? Kita berharap
dan mari aamiin kan bersama, saat Allah memanggil, kita dalam keadaan
taat dan taubat, sehingga Izrail menemui kita dalam ucapan salam dan senyuman.
Khusnul Khotimah, Aamiin ya Mujib.
Saudaraku, yakinilah
sabda Rasul bahwa kita pasti bersama orang yang kita cintai, jika kita
mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka tidakkah kita yaknin bahwa nanti kita akan
bertemu Allah dan Rasullulloh dan bersama dalam rahmat Nya? Tidak kita
memimpikan itu?
Seandainya hari ini, dunia lebih kita cintai sehingga melalaikan
kita dari mencintai hal yang sepantasnya kita mencinta kepadanya, maka
bersiaplah untuk terhina. Seorang pemuda yang tengah makan dengan lahap, seusai
makan ia ditanya oleh Rasul: Akan jadi apakah nanti makanan yang kau telan itu
wahai pemuda? Pemuda itu menjawab: Engkau lebih tahu ya Rasul. Beliau bersabda:
Dunia lebih hina dari pada itu.
Masih mampukah kita mencintai hal
yang lebih hina daripada “itu”? Betapa bodoh dan ruginya kita jika mengatakan
“Ya”. Jika pertanyaan itu masih juga terasa hambar dihati kita dan seolah tidak
bermakna dan tidak juga membuat airmata mengalir, maka menangislah, menangislah
dan berdoa: “Duhai Allah Yang Maha Penyayang dan Pengampun, ampunilah
dosa-dosaku yang menghalangiku dari menangis karena Mu, Wahai Rabbku paksa-lah
hati ini untuk kembali pada ketaatan kepada Mu, ketika hamba putus asa dengan
sipat-sipat ini, aku mohon Ya Allah berikanlah rasa nikmat kala bekhalwat
dengan Mu, berikan rasa lezat saat sujudku kepada Mu. Jika Engkau membiarkan
hati hamba gersang seperti ini, maka tiada lagi yang bisa menolongku selain
pertolongan Engkau, ya Rabb yang Maha Mengetahui. Aamiin.
Cerdas, Ikhlas Istiqomah
Allahu Akbar!
AZ
.jpg)
.jpg)
