Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Kamis, 07 November 2013



Ya Allah, ternyata jatuh dari pohon mangga itu sakit ya^^

#Edisi paragraf motivasi
Tahun baru ialah waktu yang tepat untuk merubah segalanya menjadi baru, semangat baru, target baru dan amanah baru J Biarlah hal-hal buruk yang pernah kita alami menjadi sebuah pelajaran yang akan menjadi sebuah cahaya untuk kita agar tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama diwaktu yang akan datang.
Masih berawal dari bab niat yang harus senantiasa diluruskan, dilajut dengan tindakan yang didsari hanya karena Allah dan diakhiri dengan evaluasi yang senantiasa merencanakan untuk perbaikan dimasa depan. Jika hidup diibaratkan naik motor  ada pepatah mengatakan jangan terlalu lama lihat ke spion nanti bisa nabrak pohon. Tapi tidak baik juga jika maju lurus terus tanpa melirik ke spion!  waaah jadi harus gimana nih??
Yang benar pandanglah lurus ke depan  sesekali lihat ke belakang sejenak kemudian lurus lagi (versi saya)....
Contohnya : Ketika ada seseorang yang terjatuh dari pohon mangga dan berkata  “Ya Allah ternyata jatuh dari pohon mangga itu sakit ya” maka ia akan mengingat rasa sakit itu dan menyimpannya di salahsatu folder di bagian otaknya dan suatu saat ketika ia melihat pohon mangga mungkin akan terbayang kembali dan berfikir ulang untuk menaikinya karena takut terjatuh untuk kedua kalinya. Dan baiknya ia tetap berusaha meraih mangga dengan cara yang lebih jitu .
Semoga bermanfaat.
Ra2

TAHUN BARU ~ GEMA SEMANGAT BARU


Malam bertaburan bintang,  dipenuhi langkah kaki-kaki kecil memancarkan cahaya-cahaya penuh kemenangan. Rombongan umat muslim berbondong-bondong meramaikan GEMA menyambut tahun baru islam. Malam itu malam 1 Muharram 1435 Hijriyah. Pawai obor memenuhi jalanan. Anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, dan semua kalangan umat muslim itu pulang dari masjid, bada’ shalat isya bersemangat menyalakan obor dan berkeliling di desa nya. Tidak ada alasan lain, yaitu untuk menyambut bulan baru, tahun baru umat muslim. Beralihnya bulan Dzulhijah ke bulan  Muharram Hijriyah. Beralihnya dari tahun 1434 ke 1435 Hijriyah.
Esoknya disambut pagi yang cerah, secerah semangat kaum muslimin pagi itu, masih dalam rangka memperingati tahun baru Hijriyah. Sepanjang jalanan Tasikmalaya sampai Ciamis, dalam perjalanan menuju Ciamis saya menyaksikan jalanan dipenuhi dengan mobil-mobil berlambangkan suatu identitas umat muslim. Mobil-mobil terbuka tersebut berbondong-bondong baris, mengangkut warga muslim yang tak lain itu sedang pawai, sengaja untuk memperingati 1 Muharram 1435 Hijriyah. Ada juga yang menabuh rebana, dan lain-lain. Macet dan panas seolah tak menjadi hambatan. Allahu Akbar!
PENAMAAN BULAN-BULAN ISLAM
1.     Muharram
2.    Safar
3.    Rabiulawal
4.    Rabiulakhir
5.    Jamadilawal
6.    Jamadilakhir
7.    Rejab
8.    Syaaban
9.    Ramadan
10.  Syawal
11.   Zulkaedah
12.  Zulhijah


KEUTAMAAN BULAN MUHARRAM
Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, di antaranya adalah:
Termasuk Empat Bulan Haram (suci)
Allah berfirman, yang artinya:
 “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah.
Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga,  puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.”
(HR. Muslim).
Menyambut 1 Muharram 1435 Hijriyah tak hanya diisi dengan pawai-pawai saja, memaceti jalanan, tetapi harus tawazun (seimbang) dengan meningkatkan amalan ibadah sebagai bentuk syukur kita dipertemukan dengan tahun baru Hijriyah. Bentuk syukur kita kepada Allah SWT telah dipanjangkan umur.
Fastabaqul khairot.
Keep CIIs..!
CERDAS! IKHLAS! ISTIQOMAH! ALLAHU AKBAR.
(nuurfajr, 2013)

UKHUWAH :)


Bismillah. Segala puji untuk Allah yang Maha Menguatkan, Maha Lembut dan Maha Indah. Solawat salam untuk baginda Rasullulloh Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan umatnya. Aamiin.
Sejenak sebelum melahap cerita dibawah ini, mari berkenalan terlebih dahulu dengan dua tokohnya: Katakanlah Zahraa, seorang mahasiswa di Universitas X. Seorang wanita berumur 18 tahunan. Dan namailah Aira, seorang mahasiswa pula di Universitas X, berumur 19 tahun.
Zahraa diam, dan diam saja. Diam saat perkataan menyakitkan itu menghujam ke dalam lubuk hatinya. Ia tak berespon, wajahnya memang merah, nafasnya tersengal naik turun menahan ketersinggungan jiwanya, matanya panas dan hampir-hampir berbulirkan salju dingin. Ia tak menyangka jika orang yang amat ia percayai bisa berkata seperti itu.
Zahraa menyusuri jalan, mencoba melupakan kejadian yang seharian ini menghimpit pikirannya. Gerimis menyamarkan kesedihannya. Zahraa tak kuat lagi untuk diam,  ia kini berlari sekencang-kencangnya, berlomba dengan hujan yang semakin deras.
Zahraa yang basah kuyup itu tak kuasa lagi menahan perasaannya, ia melupakan jika disekelilingnya ada dua malaikat yang menyaksikannya. Ia terpancing umpan syaiton dalam darahnya yang kian memanas. Kembali, satu-satu perkataan itu semakin jelas terdengar di telinganya,  menampar-nampar kedua pipinya dengan keras. Zahraa yang basah kuyup itu membuka pintu kostan tanpa salam, salam yang biasanya ia lafadzkan dengan ke-khusuk-an.
“Assalamualaikum ukhti soleha?” Sapa sahabatnya Aira.
Zahraa diam saja, ia tak kuasa memandang sahabat yang kini ia jadikan enemy. Aira pun terpesona dengan sikap Zahraa yang tak biasa. Ia langsung paham jika Zahraa sedang tidak baik cuaca hatinya.
Sesampainya dikamar Zahraa menangis sejadi-jadinya, namun tanpa suara. Ia memeluk dirinya yang basah kuyup. Lima belas detik kemudian handphonenya berbunyi. Pesan singkat dari Aira:
“Kenapa soleha? Jangan marah ya.”
 Tanpa piker panjang Zahraa membanting handphonenya kesal, kearah kasur empuk yang biasa ia tiduri setiap malam. Nahasnya handphone itu justru terpantulkan jatuh tepat di bawah lantai kasur. Handphone itu tak bisa membela dirinya, cukup diam dan berkedip berkali-kali dan kemudian mati tak berkutik karena seluruh isi tubuhnya telah tercerai berai.
Zahraa sedikit terkejut, kemudian ia mengambil handphone yang tak lagi bernyawa, ada perasaan menyesal dalam hatinya telah melakukan itu. “Oalah handphoneku….!” Pekik batinnya tragis. Zahraa memungut kepingan handphone itu dan merangkainya kembali, sayangnya memang nasi telah menjadi bubur basi, ia tak hidup kembali. Zahraa semakin kelimpungan, saat sadar bahwa ini satu-satunya harta yang tersisa setelah notebook merahnya pun telah ia jual karena rusak.
Aira mendengar keributan di kamar Zahraa, dengan merasa bersalah ia datang dan menemukan Zahraa dalam keadaan kelimpungan. Ia memeluknya dan meminta maaf, “Soleha, kakak gak tau apa yang sedang engkau benci, kakak tahu engkau sedang marah, tapi jangan begini caranya, ini merusak sayang. Maafkan kakak jika adik marah ke kakak” Aira berkata dengan bercucuran air mata.
Zahraa pada awalnya sangat sungkan, dan ia enggan sekali untuk berkata, perasaannya telah menguasainya untuk membenci Aira, orang yang dikabarkan telah mengobral aibnya. Tidak!

Namun….
Demi air mata Aira, Zahraa tersadar.
Demi senggukan Aira, Zahraa terlempar pada kenangan indah.
Bertahun tahun menjalani persahabatan bersama
Saling menguatkan saat letih…
Saling mengingatkan saat lalai…

Persahabatan mereka telah jauh, indah, dan memberikan banyak arti yang berharga. Kini ujian datang saat kabar tak tentu mengacaukan keindahan itu. Aira sadar jika Zahraa masih marah. Ia membisikkan kata-kata ditelinga Zahraa, yang mungkin Zahraa tak akan bisa melupakannya sampai kapanpun:
“Dik, kakak menyayangimu karena Allah.”
Perkataan itu seperi mantra. Seperti api yang bisa melelehkan es, atau seperti matahari yang bisa menerangi bumi. Zahraa memeluk erat Aira, teringat janjinya dulu, ketika ada masalah diantara mereka berdua, ia akan menyatakan bahwa ia menyayangi sahabatnya laiknya saudara bahkan laiknya diri sendiri. Dengan terharu Zahraa, ia mengatakan segala kekesalannya kepada Aira dengan linangan air mata. Zahraa meluapkan apa yang ia dengar siang tadi, Aira pun tak bisa lagi menahan dirinya, ia ceritakan jika perkataan itu bukan miliknya, ia tak pernah berkata begini atau begitu. Zahraa tergugu, ia merasa dirinya tergesa-gesa menilai Aira, padahal mereka telah bersama dalam waktu lama. Mengapa masih dengan mudah terhasut? Subhanallah, astagfirulloh… bukankah kita ini sama?
Aira dan Zahraa kini kembali memulai ceritanya, tentang mimpi dan cinta mereka pada Rabb.
“Barang siapa yang saling menyayangi dan mencintai dijalan Allah, bertemu dan berkumpul karena Allah, maka ia peroleh naungan Allah di hari kiamat kelak.”
Aamiin.
Semoga bermanfaat. Keep CIIs…! (Az).

Rabu, 06 November 2013

MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH, BOLEH GA YAA?


Tepat pada hari Selasa, 5 November 2013 (dua hari yang lalu) merupakan awal tahun baru bagi umat Islam. Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1435 H. Mari kita tela’ah makna dari tahun baru hijriyah!
Tahun baru Hijriyah sering disebut dengan Kalender Hijriyah atau Kalender Islam, dalam bahasa Arabnya: at-taqwim al-hijriy, yaitu kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan masalah ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad saw. bersama sahabatnya dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622M.
Bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim tentang Tahun Baru Hijriyah ini? Memeriahkannya dengan saling berucap selamat, bertukar kado, malas-malasan karena diliburkan, atau bersikap biasa-biasa saja?
Banyak dari kita melakukan suatu perbuatan tanpa mengetahui dasarnya, boleh atau tidak, disyari’atkan Islam atau tidak. Contoh dalam hal saling berucap selamat tahun baru Hijriyah. Ada pertanyaan “Apa hukum mengucapkan tahniah (ucapan selamat) tahun baru Hijriyah? Dan bagaimana sikap yang benar jika ada yang mengucapkannya kepada kita?”
Seorang ulama, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab: “Jika ada orang yang mengucapkan tahniah kepadamu maka balaslah, akan tetapi jangan kita yang memulai. Inilah sikap yang benar dalam masalah ini. Jika seseorang berkata kepada kita: ‘selamat tahun baru Hijriyah’. Maka katakan padanya (semisal ini): ‘semoga Allah memberikanmu keselamatan dengan kebaikan-kebaikan dari-Nya, dan semoga Allah menjadikan tahun ini tahun yang baik dan berkah’. Namun jangan memulai ucapan selamat tahun baru kepada orang lain. Karena saya tidak mengetahui adanya riwayat saling mengucapkan selamat tahun baru Hijriyah.”
Wallâhu a’lam bish shawâb
Intinya, kita sebagai Muslim harus memiliki sikap kehati-hatian dalam berperilaku. Kaji dan telaah lebih jauh apakah yang akan dilakukan disyari’atkan oleh Allah dan Rasulullah atau tidak.
Adapun sikap kita terhadap perayaan Tahun Baru Hijriyah ini, akan lebih baik jika digunakan dan dimanfaatkan untuk introspeksi diri (bermuhasabah). Allah masih memberi amanah untuk hidup kepada kita, tetapi siapa tahu besok atau lusa atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan, kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru Hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita sudah tidak ada?.
Berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Ahmad)
Dalam menyambut tahun baru Hijriah, sangat penting bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat dan dosa atau maksiat yang telah kita kerjakan. Penilaian ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan amal atau dosa kita, tapi agar tahun mendatang lebih baik dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh serta mengurangi perbuatan dosa dan amal salah.

Wallâhu a’lam bish shawâb


ai