Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Selasa, 28 Februari 2012

MotivasI


Belajar Semangat Hidup dari Pipiet Senja
Oleh: Renny Rusniawati

Pipiet Senja. Siapa yang tak kenal beliau? Seorang penulis yang telah menelurkan berpuluh-puluh karya, terutama novel. Novel-novelnya selalu fenomenal. Beliau adalah sosok wanita yang luar biasa, sangat luar biasa.
Wanita yang memiliki nama asli Etty Hadiwati Arief ini lahir di Sumedang, 16 Mei 1957, sulung dari tujuh bersaudara. Beliau mulai menulis sejak usia remaja. Karya-karyanya yang telah dibukukan sampai tahun 2005 telah mencapai jumlah 65 buku.
Namun, siapa sangka, di balik kesuksesannya sebagai penulis, beliau ternyata juga mengidap penyakit yang sangat menyiksa. Thalasemia, penyakit kelainan darah, sehingga menyebabkan beliau harus ditransfusi darah secara berkala seumur hidupnya, dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bisa mencapai puluhan juta rupiah. Namun, penyakit bukanlah hambatan baginya untuk terus berkarya. Enam puluh lima karya bukanlah jumlah yang sedikit, bahkan angka tersebut adalah angka yang spektakuler.
Pipiet Senja adalah penderita thalasemia pertama di Indonesia yang mampu melahirkan secara normal. Ketika itu, dokter menyatakan bahwa kehamilannya sangat beresiko karena bisa membahayakan nyawanya. Tapi atas izin Allah, beliau mampu melewati masa kritis tersebut, dan lahirlah seorang putra yang ia beri nama Haekal Siregar. Begitu pun dengan kelahiran anak keduanya, Adzimattinur Siregar. Rupanya naluri kepenulisan beliau menurun kepada kedua anaknya. Haekal pernah menulis buku tentang kisah pernikahannya dengan Sely Siti Solihat yang berlangsung tepat setelah lulus SMA. Begitupun Adzimattinur (Zee-zee) telah menelurkan beberapa buah buku.
Walaupun telah menjelma menjadi penulis sukses dan terkenal, Pipiet Senja tetaplah Pipiet Senja dengan segala kesederhanaannya. Beliau mengaku tidak pernah mengikuti mode pakaian, bahkan jarang sekali membeli pakaian. Pernah suatu ketika beliau mengisi acara bedah buku di Mesir, di hadapan mahasiswa Indonesia, ada seorang mahasiswi yang tidak sengaja menyebut pakaian yang beliau kenakan “tabrak lari”.
Begitulah sosok Pipiet Senja, wanita luar biasa yang mampu membesarkan kedua anaknya seorang diri. Tak pernah lepas dari kesederhanannya, tak pernah mengeluh dengan penyakit yang dideritanya, bahkan beliau mengaku bahwa dirinya kemungkinan sekali tidak akan pernah menjadi penulis jika tidak mengidap thalasemia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar