Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Selasa, 02 April 2013

Ada Apa Dengan Hati?


 Bismillahirohmanirrohim, mudah-mudahan bermanfaat.
                Ada apa dengan hati? Seperti sebuah judul sinetron ya? AADH.
Saudaraku yang dimuliakan Allah, bagaimana rasanya ketika kita mendengar kata penganiayaan, penghinaan atau kekerasan? Gambar ini diambil dari salah satu artikel tentang penyiksaan anak di Jepang. Kita lihat bagaimana ekspresinya putri itu?  sangat menyakitkan.
 Lantas bagaimana jika itu menimpa saudara kita atau malah kita sendiri?
Melalui media massa saat kini yang sudah tak bisa terbendung arusnya, informasi kekerasan dan penganiayaan adalah santapan biasa yang semakin hari-semakin merajalela, mulai dari artis tanah air, hingga politisi. GOSIP.
Banyak dari kita yang mencoba bertanya-tanya. Mengapa kekerasan dan penganiayaan itu semakin sering terjadi? Banyak motif dan alasan, ada sebab-ada akibat, dan ada aksi-ada reaksi. Namun satu-satunya yang pasti adalah karena: hati. Mengapa hati? Ini adalah jawaban dari AADH. Ada apa degan hati kita? Hati yang tersakiti dan ternoda adalah pemicu segala masalah, termasuk tindak penganiayaan, penghinaan dan kekerasan.
Manusia terlahir kedunia dengan perangkat yang disebut hati.
Manusia hidup karena ia layak untuk hidup, bukan untuk ditiadakan dan dianiaya. Sembilan bulan sebelum kelahirannya ia berjuang untuk menjadi seorang pemenang dan membuahi sel telur dengan susah payah.  Seorang pemenang yang meskipun terkadang ia rela berbagai tempat untuk yang lain jika Allah berkehendak ia memiliki saudara kembar. Tepat setelah itu, tanpa salah perhitungan manusia terlahir dalam keadaan yang  unik, ia memiliki fisik yang indah dan sempurna, jiwa yang diberkati akal dan satu lagi yang sedang kita perbincangkan: HATI. Seorang khalifah, pemimpin bumi telah lahir, ia disambutkan dengan kumandang  adzan ditelinga kanannya dan iqomat ditelinga kirinya. Lengkap!
Manusia dan jin, jika dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain seperti tumbuhan dan hewan, mereka adalah ciptaan yang sempurna. Diberkati dua sisi, pilihan-pilihan, persandingan antara kebaikan dan kejahatan, persekutuan rasa sayang dan amarah. Manusia dan jin memiliki akal untuk berasional dan hati untuk bernurani. Akal dan hati perpaduan yang sangat indah dan  luar biasa, dua hal yang diciptakan oleh yang Maha Luar Biasa Allah SWT Rabb kita dengan penuh cinta untuk makhluk bernama: MANUSIA. Betapa banyak cinta Allah yang kita rasakan, tak terhingga.
Hati, segumpal daging yang sangat berpengaruh besar.
" Qola Rasululloh: Alaa inna fil jasadi mudghah,idzaa shaluhat shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qalbu".
 (Berkata Rasululloh: Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Ingatlah ia adalah hati ) (HR. Bukhori Muslim).
Bagaimana jika manusia tak punya hati? Hati adalah sang pengendli nafsu, baik nafsu mutmainnah maupun nafsu amarah. Bayangkanlah jika hati tak ada, maka manusia benar-benar akan menumpahkan darah dibumi ini dan menjadikan rusak segala tatanan yang telah terbentuk. Hatilah kuncinya, berbicara tentang hati memang sangat sensitive perlu kehati-hatian. Karena hati bukanlah ranah manusia, ia adalah ranah Allah. Allah-lah yang membolak balikan hati manusia, seberapa ingin pun engkau merubah suatu kaum namun jika Allah tidak memberi petunjuk kepadanya maka tidak ada seorang penolong pun yang mampu menghalanginya. Hal ini telah dijelaskan dalam surat Al-An’am: 110.
Namun sahabat, meskipun itu adalah ranahnya Allah, kita sebagai makhluk yang berhati harus dan mesti menjaga hati yang telah Allah berikan untuk kita. Jika setiap perkataan dan perbuatan maksiat mengotori hati maka kita harus segera membersihkannya. Cari bengkelnya, mintalah untuk diperbaiki atau mungkin jika bisa diganti dengan yang lebih suci. Siapakah bengkelnya? Tentu saja Dia yang telah menciptakannya.
Kekerasan dan penganiayaan baik dalam bentuk fisik maupun psikis seperti intimidasi, isolasi, maupun diskriminasi yang didalangi hati yang sakit, harus dihadapi dengan hati yang sehat. KH. Abdullah Gymnastiar dalam nasyidnya “Jagalah Hati” benar-benar menyentuh kita, mungkin kita sejenak bisa bersenandung bersama:
Jaga lah hati jangan kau kotori jagalah hati cahaya Illahi,
jagalah hati jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini
Jika hati kian bersih
Pikiran pun akan jernih
Semangat hidup yang gigih
Prestasi mudah diraih.
Namun bila hati keruh
Batin selalu gemuruh
Bagaikan dikejar musuh
Dengan Allah kian jauh
Jaga lah hati jangan kau kotori jagalah hati cahaya Illahi,
jagalah hati jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini

(Mohon maaf bila liriknya kurang tepat, miliki audio, kaset, CD-nya segera, putar tiap pagi)

Lantas bagaimana jika hati kita terlanjur sakit? Sakit sekali dan tak tahu lagi bentuk hati kita seperti apa… masa lalu yang terlalu kelam telah menodai, perkataan yang terlalu keras, dosa melimpah, lemah ibadah bahkan tak pernah, dan banyak lagi…………
 Kita diingatkan dengan nasyidnya Opik “Obat Hati”, mari kita senandungkan:
Obat hati ada lima perkara:
yang pertama baca Qur’an dan maknanya,
yang kedua solat malam dirikanlah,
yang ketiga berkumpullah dengan orang soleh,
 yang keempat berbanyaklah berpuasa,
yang kelima dzikir malam perpanjanglah,
salah satunya siapa bisa menjalankan semoga Allah membimbing kita semua.
 (miliki audionya segera ya^^)

Sekian tulisan ini ditulis dengan segenap hati, mohon maaf jika banyak kesalahan. Mari Sahabat kita bersama menuju kebaikan!

Sedikit renungan: Ketika kita melihat hasil seorang pemahat yang begitu mirif dengan aslinya lantas kita berkata takjub akan kepiawaiannya dalam meniru, namun kita tak pernah terpikir dengan pencipta sipemahat sebenarnya lebih luar biasa, ia menciptakannya dari saripati tanah yang dibentuk dan kedalamnya ditiupkan ruh. Hanya cukup dengan “Kun” maka “Fayakun!” (AZ)

2 komentar: