Bismillahirohmanirrohim,
mudah-mudahan bermanfaat.
Ada apa dengan hati? Seperti
sebuah judul sinetron ya? AADH.
Saudaraku
yang dimuliakan Allah, bagaimana rasanya ketika kita mendengar kata
penganiayaan, penghinaan atau kekerasan? Gambar ini diambil dari salah satu
artikel tentang penyiksaan anak di Jepang. Kita lihat bagaimana ekspresinya putri itu? sangat menyakitkan.
Lantas bagaimana jika itu menimpa saudara kita
atau malah kita sendiri?
Melalui media
massa saat kini yang sudah tak bisa terbendung arusnya, informasi kekerasan dan
penganiayaan adalah santapan biasa yang semakin hari-semakin merajalela, mulai
dari artis tanah air, hingga politisi. GOSIP.
Banyak dari
kita yang mencoba bertanya-tanya. Mengapa kekerasan dan penganiayaan itu
semakin sering terjadi? Banyak motif dan alasan, ada sebab-ada akibat, dan ada aksi-ada
reaksi. Namun satu-satunya yang pasti adalah karena: hati. Mengapa hati? Ini
adalah jawaban dari AADH. Ada apa degan hati kita? Hati yang tersakiti dan ternoda
adalah pemicu segala masalah, termasuk tindak penganiayaan, penghinaan dan
kekerasan.
Manusia terlahir
kedunia dengan perangkat yang disebut hati.
Manusia
hidup karena ia layak untuk hidup, bukan untuk ditiadakan dan dianiaya. Sembilan
bulan sebelum kelahirannya ia berjuang untuk menjadi seorang pemenang dan
membuahi sel telur dengan susah payah. Seorang
pemenang yang meskipun terkadang ia rela berbagai tempat untuk yang lain jika
Allah berkehendak ia memiliki saudara kembar. Tepat setelah itu, tanpa salah
perhitungan manusia terlahir dalam keadaan yang unik, ia memiliki fisik yang indah dan
sempurna, jiwa yang diberkati akal dan satu lagi yang sedang kita
perbincangkan: HATI. Seorang khalifah, pemimpin bumi telah lahir, ia
disambutkan dengan kumandang adzan ditelinga
kanannya dan iqomat ditelinga kirinya. Lengkap!
Manusia dan
jin, jika dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain seperti tumbuhan dan
hewan, mereka adalah ciptaan yang sempurna. Diberkati dua sisi,
pilihan-pilihan, persandingan antara kebaikan dan kejahatan, persekutuan rasa sayang
dan amarah. Manusia dan jin memiliki akal untuk berasional dan hati untuk
bernurani. Akal dan hati perpaduan yang sangat indah dan luar biasa, dua hal yang diciptakan oleh yang
Maha Luar Biasa Allah SWT Rabb kita dengan penuh cinta untuk makhluk bernama:
MANUSIA. Betapa banyak cinta Allah yang kita rasakan, tak terhingga.
Hati, segumpal
daging yang sangat berpengaruh besar.
" Qola Rasululloh: Alaa inna fil jasadi mudghah,idzaa shaluhat
shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal
qalbu".
(Berkata Rasululloh: Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal
daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh
tubuhnya. Ingatlah ia adalah hati ) (HR. Bukhori
Muslim).
Bagaimana
jika manusia tak punya hati? Hati adalah sang pengendli nafsu, baik nafsu mutmainnah
maupun nafsu amarah. Bayangkanlah jika hati tak ada, maka manusia benar-benar
akan menumpahkan darah dibumi ini dan menjadikan rusak segala tatanan yang
telah terbentuk. Hatilah kuncinya, berbicara tentang hati memang sangat sensitive
perlu kehati-hatian. Karena hati bukanlah ranah manusia, ia adalah ranah Allah.
Allah-lah yang membolak balikan hati manusia, seberapa ingin pun engkau merubah
suatu kaum namun jika Allah tidak memberi petunjuk kepadanya maka tidak ada
seorang penolong pun yang mampu menghalanginya. Hal ini telah dijelaskan dalam
surat Al-An’am: 110.
Namun
sahabat, meskipun itu adalah ranahnya Allah, kita sebagai makhluk yang berhati
harus dan mesti menjaga hati yang telah Allah berikan untuk kita. Jika setiap
perkataan dan perbuatan maksiat mengotori hati maka kita harus segera membersihkannya.
Cari bengkelnya, mintalah untuk diperbaiki atau mungkin jika bisa diganti
dengan yang lebih suci. Siapakah bengkelnya? Tentu saja Dia yang telah
menciptakannya.
Kekerasan dan
penganiayaan baik dalam bentuk fisik maupun psikis seperti intimidasi, isolasi,
maupun diskriminasi yang didalangi hati yang sakit, harus dihadapi dengan hati
yang sehat. KH. Abdullah Gymnastiar dalam nasyidnya “Jagalah Hati” benar-benar
menyentuh kita, mungkin kita sejenak bisa bersenandung bersama:
Jaga
lah hati jangan kau kotori jagalah hati cahaya Illahi,
jagalah
hati jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini
Jika
hati kian bersih
Pikiran
pun akan jernih
Semangat
hidup yang gigih
Prestasi
mudah diraih.
Namun
bila hati keruh
Batin
selalu gemuruh
Bagaikan
dikejar musuh
Dengan
Allah kian jauh
Jaga
lah hati jangan kau kotori jagalah hati cahaya Illahi,
jagalah
hati jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini
(Mohon
maaf bila liriknya kurang tepat, miliki audio, kaset, CD-nya segera, putar tiap
pagi)
Lantas
bagaimana jika hati kita terlanjur sakit? Sakit sekali dan tak tahu lagi bentuk
hati kita seperti apa… masa lalu yang terlalu kelam telah menodai, perkataan
yang terlalu keras, dosa melimpah, lemah ibadah bahkan tak pernah, dan banyak
lagi…………
Kita diingatkan dengan nasyidnya Opik “Obat
Hati”, mari kita senandungkan:
Obat
hati ada lima perkara:
yang
pertama baca Qur’an dan maknanya,
yang
kedua solat malam dirikanlah,
yang
ketiga berkumpullah dengan orang soleh,
yang keempat berbanyaklah berpuasa,
yang
kelima dzikir malam perpanjanglah,
salah
satunya siapa bisa menjalankan semoga Allah membimbing kita semua.
(miliki audionya segera ya^^)
Sekian
tulisan ini ditulis dengan segenap hati, mohon maaf jika banyak kesalahan. Mari
Sahabat kita bersama menuju kebaikan!
Sedikit
renungan: Ketika kita melihat hasil seorang pemahat yang begitu mirif dengan
aslinya lantas kita berkata takjub akan kepiawaiannya dalam meniru, namun kita
tak pernah terpikir dengan pencipta sipemahat sebenarnya lebih luar biasa, ia
menciptakannya dari saripati tanah yang dibentuk dan kedalamnya ditiupkan ruh.
Hanya cukup dengan “Kun” maka “Fayakun!” (AZ)
inspiratif :D
BalasHapusEditornya yang menginspirasi :)
BalasHapus