Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Minggu, 02 Juni 2013

Kita = Tukang Sampah

Sampah…
Semua orang pasti mengetahuinya. Sebuah kata banyak makna. Sebuah kata yang “mungkin” membuat orang merasa jijik. Sebuah kata yang dapat memberikan dampak buruk atau bahkan menjadi ladang pahala.

Menurut KBBI sampah memiliki dua arti. Arti pertama bermakna kata benda, sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan sebagainya; kotoran seperti daun, kertas. Arti kedua bermakna kata sifat, sampah adalah suatu kehinaan. Sampah pada arti kedua ini biasanya dipakai untuk melengkapi kata lain yang bermakna konotasi. Misalnya pada kata sampah masyarakat.

Sampah yang akan saya bahas lebih dikerucutkan kepada sampah bermakna kata benda, seperti sampah plastik bekas makanan, dsb. Kenapa? Karena sepertinya sampah ringan ini dianggap sepele, dibuang di mana saja pun tidak jadi masalah.  Merasa atau tidak, kini budaya buang sampah pada tempatnya sudah sangat luntur “tercuci” gengsi, atau memang sudah tidak peduli dengan kebersihan lingkungan? Resah, sangat meresahkan.

Miris sekali ketika ada orang yang biasssa saja, tanpa beban, tanpa rasa tanggung jawab, tanpa rasa malu, “saenake dewek” buang sampah di mana saja. Lebih miris lagi jika orang-orang itu adalah orang intelek, berpendidikan, tahu aturan. Yaah, jangan jauh-jauh ­lah yaa. Kita saja yang berstatus mahasiswa masih banyak tuuh kayanya yang cuek bebek terhadap sampah. Coba gera kita lihat ke setiap kelas sebelum dan setelah kuliah, sudah pasti dan tidak diragukan lagi akan kita temukan sampah-sampah berbaris rapi di bawah kursi. Bisa juga kita temukan sampah-sampah yang sedang menari di tengah kelas. Wah, pemandangan indah yang bisa kita nikmati dengan gratis setiap hari!
(jleebbb -_-)

Heran, sungguh sangat heran. Sampah yang menari-nari dan berbaris rapi itu tidak ada satu pun orang yang ikhlas mengantarkannya ke rumah mereka (red. tong sampah). Banyak mahasiswa yang suka kebersihan tetapi buang sampah masih tetap semaunya (diselipkan di bawah kursi, di simpan di dekat jendela, dll). Ada juga mereka yang jijik kalau melihat sampah berlari-lari di tengah kelas tetapi kebanyakan mereka tidak mau ambil tindakan. Jika membaca dari mimik muka dan hatinya siiihh seperti yang tidak mau cape sendiri, “Enak aaaja, gue cape-cape bersihin orang lain yang ngotorin, enak di elo ga enak di gue dooong.”

Kembali bertanya, apakah kesadaran peduli lingkungan dari orang-orang intelek ini sudah pupus terhapus penghapus zaman? Gengsi kah? Malu kah? Takut dikatain udik kah? atau hanya sekadar lupa? Husnudzan, mereka “memang” lupa untuk membuang sampah pada tempatnya. Yaa, mudah-mudahan hanya lupa. Jika lupa berarti harus ada yang mengingatkan. Sebenarnya banyak dosen-dosen luar biasa yang sudah dan selalu mengingatkan kita untuk menjaga kebersihan kelas. Salah satunya membuang sampah pada tempatnya. Pihak lembaga pun sudah sangat baik menyediakan rumah untuk sampah di setiap kelas, namun yaa itu tadi mahasiswanya “kelupaan”.

Kebersihan lingkungan seluruhnya dan di kelas khususnya bukanlah kewajiban suatu pihak/lembaga. Sekali lagi bukan hanya kewajiban tukang sapu, petugas kebersihan, ataupun lembaga yang menangani sampah (lembaga ini di Kota Tasikmalaya khususnya adalah Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan). Ini adalah kewajiban kita bersama. Menjaga lingkungan di mana pun kaki kita berpijak di bumi cinta-Nya.
Jadi ingat rumus 3M dari Aa Gym:
1.         Mulai dari diri sendiri (Yuuk belajar bersama membuang sampah pada tempatnya! Jika tidak ada tong sampah terus pegang sampah itu sampai menemukannya ^_^)
2.      Mulai dari hal terkecil (Seperti yang telah saya paparkan sebelumnya, masalah buang sampah pada tempatnya ini dianggap sepele, padahal dari hal yang sepele lah sesuatu yang besar akan muncul. Maka dari itu, yuuk kita biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya, meskipun hanya secuil plastik. Tidak sulit kok, ketika itu sudah menjadi kebiasaan baik ^_^)
3.      Mulai dari saat ini (Mau nunggu sampai kapan membiasakan buang sampah pada tempatnya? Sampai kejadian banjir baru tersadar kalau buang sampah pada tempatnya ini sangat penting. Nggak kan? Udah deh ayo mulai dari saat ini juga kita biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya)

Ada lagi niiih satu rumus dari Aa Gym juga, katanya mari kita budayakan TSP! Apa itu TSP?
T= Tahan dari buang sampah sembarangan
S= Simpan sampah pada tempatnya
P= Pungut sampah insyaAllah jadi sedekah

Tekadkan bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan. Bersih itu iman, karena kebersihan sebagian dari iman. Minimal kelas masing-masing dulu deehh. Supaya enak gituu dilihatnya.  J
Terakhir,
Tukang sampah bukan tukang sampah.
Tukang sampah adalah tukang “BERSIH”.
Karena predikat tukang sampah lebih layak disematkan kepada orang-orang yang selalu membuang sampah sembarangan.

Hayoooo loohh, mau dikatain tukang sampah??? :D

Mohon maaf bila ada kesalahan.
Tidak ada sedikit pun niat untuk nyinyir.
Ini asli dalam rangka saling mengingatkan ^_^
Mudah-mudahan bermanfaat.

A.I.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar