Sampah…
Semua orang pasti mengetahuinya. Sebuah
kata banyak makna. Sebuah kata yang “mungkin” membuat orang merasa jijik.
Sebuah kata yang dapat memberikan dampak buruk atau bahkan menjadi ladang
pahala.
Menurut KBBI sampah memiliki dua arti.
Arti pertama bermakna kata benda, sampah adalah barang atau benda yang dibuang
karena tidak terpakai lagi dan sebagainya; kotoran seperti daun, kertas. Arti
kedua bermakna kata sifat, sampah adalah suatu kehinaan. Sampah pada arti kedua
ini biasanya dipakai untuk melengkapi kata lain yang bermakna konotasi.
Misalnya pada kata sampah masyarakat.
Sampah yang akan saya bahas lebih
dikerucutkan kepada sampah bermakna kata benda, seperti sampah plastik bekas
makanan, dsb. Kenapa? Karena sepertinya sampah ringan ini dianggap sepele,
dibuang di mana saja pun tidak jadi masalah.
Merasa atau tidak, kini budaya buang sampah pada tempatnya sudah sangat
luntur “tercuci” gengsi, atau memang sudah tidak peduli dengan kebersihan lingkungan?
Resah, sangat meresahkan.
Miris sekali ketika ada orang yang
biasssa saja, tanpa beban, tanpa rasa tanggung jawab, tanpa rasa malu, “saenake dewek” buang sampah di mana
saja. Lebih miris lagi jika orang-orang itu adalah orang intelek, berpendidikan,
tahu aturan. Yaah, jangan jauh-jauh lah yaa. Kita saja yang berstatus
mahasiswa masih banyak tuuh kayanya yang
cuek bebek terhadap sampah. Coba gera
kita lihat ke setiap kelas sebelum dan setelah kuliah, sudah pasti dan tidak
diragukan lagi akan kita temukan sampah-sampah berbaris rapi di bawah kursi.
Bisa juga kita temukan sampah-sampah yang sedang menari di tengah kelas. Wah,
pemandangan indah yang bisa kita nikmati dengan gratis setiap hari!
(jleebbb -_-)
Heran, sungguh sangat heran. Sampah
yang menari-nari dan berbaris rapi itu tidak ada satu pun orang yang ikhlas
mengantarkannya ke rumah mereka (red.
tong sampah). Banyak mahasiswa yang suka kebersihan tetapi buang sampah masih tetap
semaunya (diselipkan di bawah kursi, di simpan di dekat jendela, dll). Ada juga
mereka yang jijik kalau melihat sampah berlari-lari di tengah kelas tetapi kebanyakan
mereka tidak mau ambil tindakan. Jika membaca dari mimik muka dan hatinya siiihh seperti yang tidak mau cape
sendiri, “Enak aaaja, gue cape-cape
bersihin orang lain yang ngotorin, enak di elo ga enak di gue dooong.”
Kembali bertanya, apakah kesadaran peduli
lingkungan dari orang-orang intelek ini sudah pupus terhapus penghapus zaman?
Gengsi kah? Malu kah? Takut dikatain udik kah? atau hanya sekadar lupa? Husnudzan,
mereka “memang” lupa untuk membuang sampah pada tempatnya. Yaa, mudah-mudahan hanya lupa. Jika lupa berarti harus ada yang
mengingatkan. Sebenarnya banyak dosen-dosen luar biasa yang sudah dan selalu
mengingatkan kita untuk menjaga kebersihan kelas. Salah satunya membuang sampah
pada tempatnya. Pihak lembaga pun sudah sangat baik menyediakan rumah untuk
sampah di setiap kelas, namun yaa itu
tadi mahasiswanya “kelupaan”.
Kebersihan lingkungan seluruhnya dan
di kelas khususnya bukanlah kewajiban suatu pihak/lembaga. Sekali lagi bukan
hanya kewajiban tukang sapu, petugas kebersihan, ataupun lembaga yang menangani
sampah (lembaga ini di Kota Tasikmalaya khususnya adalah Dinas Cipta Karya Tata
Ruang dan Kebersihan). Ini adalah kewajiban kita bersama. Menjaga lingkungan di
mana pun kaki kita berpijak di bumi cinta-Nya.
Jadi ingat rumus 3M dari Aa Gym:
1.
Mulai dari diri
sendiri (Yuuk belajar bersama membuang sampah pada tempatnya! Jika tidak ada
tong sampah terus pegang sampah itu sampai menemukannya ^_^)
2. Mulai dari hal terkecil (Seperti yang telah saya
paparkan sebelumnya, masalah buang sampah pada tempatnya ini dianggap sepele,
padahal dari hal yang sepele lah sesuatu yang besar akan muncul. Maka dari itu,
yuuk kita biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya, meskipun hanya secuil
plastik. Tidak sulit kok, ketika itu sudah menjadi kebiasaan baik ^_^)
3. Mulai dari saat ini (Mau nunggu sampai kapan
membiasakan buang sampah pada tempatnya? Sampai kejadian banjir baru tersadar
kalau buang sampah pada tempatnya ini sangat penting. Nggak kan? Udah deh ayo
mulai dari saat ini juga kita biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya)
Ada lagi niiih satu rumus dari Aa Gym juga, katanya mari kita budayakan TSP!
Apa itu TSP?
T= Tahan dari buang sampah sembarangan
S= Simpan sampah pada tempatnya
P= Pungut sampah insyaAllah jadi
sedekah
Tekadkan bersama untuk menjaga
kebersihan lingkungan. Bersih itu iman, karena kebersihan sebagian dari iman. Minimal
kelas masing-masing dulu deehh.
Supaya enak gituu dilihatnya. J
Terakhir,
Tukang sampah bukan tukang sampah.
Tukang sampah adalah tukang “BERSIH”.
Karena predikat tukang sampah lebih layak disematkan
kepada orang-orang yang selalu membuang sampah sembarangan.
Hayoooo loohh, mau dikatain tukang
sampah??? :D
Mohon maaf bila ada kesalahan.
Tidak ada sedikit pun niat untuk nyinyir.
Ini asli dalam rangka saling mengingatkan ^_^
Mudah-mudahan bermanfaat.
A.I.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar