Tepat
pada hari Selasa, 5 November 2013 (dua hari yang lalu) merupakan awal tahun
baru bagi umat Islam. Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1435 H. Mari kita tela’ah
makna dari tahun baru hijriyah!
Tahun
baru Hijriyah sering disebut dengan Kalender Hijriyah atau Kalender Islam,
dalam bahasa Arabnya: at-taqwim al-hijriy, yaitu kalender yang digunakan oleh
umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan
masalah ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender
Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa
Hijrahnya Nabi Muhammad saw. bersama sahabatnya dari Makkah ke Madinah, yakni
pada tahun 622M.
Bagaimana
seharusnya sikap seorang Muslim tentang Tahun Baru Hijriyah ini? Memeriahkannya
dengan saling berucap selamat, bertukar kado, malas-malasan karena diliburkan,
atau bersikap biasa-biasa saja?
Banyak
dari kita melakukan suatu perbuatan tanpa mengetahui dasarnya, boleh atau tidak,
disyari’atkan Islam atau tidak. Contoh dalam hal saling berucap selamat tahun
baru Hijriyah. Ada pertanyaan “Apa hukum mengucapkan tahniah (ucapan
selamat) tahun baru Hijriyah? Dan bagaimana sikap yang benar jika ada yang
mengucapkannya kepada kita?”
Seorang
ulama, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab: “Jika ada orang yang
mengucapkan tahniah kepadamu maka balaslah, akan tetapi jangan
kita yang memulai. Inilah sikap yang
benar dalam masalah ini. Jika seseorang berkata kepada kita: ‘selamat tahun
baru Hijriyah’. Maka katakan padanya (semisal ini): ‘semoga Allah
memberikanmu keselamatan dengan kebaikan-kebaikan dari-Nya, dan semoga Allah
menjadikan tahun ini tahun yang baik dan berkah’. Namun jangan memulai ucapan
selamat tahun baru kepada orang lain. Karena saya tidak mengetahui adanya
riwayat saling mengucapkan selamat tahun baru Hijriyah.”
Wallâhu a’lam bish shawâb
Intinya, kita sebagai Muslim harus memiliki sikap
kehati-hatian dalam berperilaku. Kaji dan telaah lebih jauh apakah yang akan
dilakukan disyari’atkan oleh Allah dan Rasulullah atau tidak.
Adapun sikap kita terhadap perayaan Tahun Baru
Hijriyah ini, akan lebih baik jika digunakan dan dimanfaatkan untuk introspeksi
diri (bermuhasabah). Allah masih memberi amanah untuk hidup kepada kita, tetapi
siapa tahu besok atau lusa atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan,
kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru Hijriah, tetapi
siapa tahu tahun depan kita sudah tidak ada?.
Berbahagialah
bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan
amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda
: “Sebaik-baik
manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. Ahmad)
Dalam menyambut
tahun baru Hijriah, sangat penting bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan
menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat dan dosa atau maksiat yang
telah kita kerjakan. Penilaian ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar
perbuatan amal atau dosa kita, tapi agar tahun mendatang lebih baik dengan
memperbanyak ibadah dan amal saleh serta mengurangi perbuatan dosa dan amal
salah.
Wallâhu a’lam bish shawâb
ai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar