Bismillah. Segala puji untuk Allah yang
Maha Menguatkan, Maha Lembut dan Maha Indah. Solawat salam untuk baginda
Rasullulloh Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan umatnya. Aamiin.
Sejenak sebelum melahap cerita dibawah
ini, mari berkenalan terlebih dahulu dengan dua tokohnya: Katakanlah Zahraa,
seorang mahasiswa di Universitas X. Seorang wanita berumur 18 tahunan. Dan
namailah Aira, seorang mahasiswa pula di Universitas X, berumur 19 tahun.
Zahraa diam, dan diam saja. Diam saat
perkataan menyakitkan itu menghujam ke dalam lubuk hatinya. Ia tak berespon,
wajahnya memang merah, nafasnya tersengal naik turun menahan ketersinggungan
jiwanya, matanya panas dan hampir-hampir berbulirkan salju dingin. Ia tak
menyangka jika orang yang amat ia percayai bisa berkata seperti itu.
Zahraa menyusuri jalan, mencoba
melupakan kejadian yang seharian ini menghimpit pikirannya. Gerimis menyamarkan
kesedihannya. Zahraa tak kuat lagi untuk diam,
ia kini berlari sekencang-kencangnya, berlomba dengan hujan yang semakin
deras.
Zahraa yang basah kuyup itu tak kuasa
lagi menahan perasaannya, ia melupakan jika disekelilingnya ada dua malaikat
yang menyaksikannya. Ia terpancing umpan syaiton dalam darahnya yang kian
memanas. Kembali, satu-satu perkataan itu semakin jelas terdengar di
telinganya, menampar-nampar kedua
pipinya dengan keras. Zahraa yang basah kuyup itu membuka pintu kostan tanpa
salam, salam yang biasanya ia lafadzkan dengan ke-khusuk-an.
“Assalamualaikum ukhti soleha?” Sapa
sahabatnya Aira.
Zahraa diam saja, ia tak kuasa
memandang sahabat yang kini ia jadikan enemy. Aira pun terpesona dengan sikap
Zahraa yang tak biasa. Ia langsung paham jika Zahraa sedang tidak baik cuaca
hatinya.
Sesampainya dikamar Zahraa menangis
sejadi-jadinya, namun tanpa suara. Ia memeluk dirinya yang basah kuyup. Lima
belas detik kemudian handphonenya berbunyi. Pesan singkat dari Aira:
“Kenapa soleha? Jangan marah ya.”
Tanpa piker panjang Zahraa membanting
handphonenya kesal, kearah kasur empuk yang biasa ia tiduri setiap malam.
Nahasnya handphone itu justru terpantulkan jatuh tepat di bawah lantai kasur.
Handphone itu tak bisa membela dirinya, cukup diam dan berkedip berkali-kali
dan kemudian mati tak berkutik karena seluruh isi tubuhnya telah tercerai
berai.
Zahraa sedikit terkejut, kemudian ia
mengambil handphone yang tak lagi bernyawa, ada perasaan menyesal dalam hatinya
telah melakukan itu. “Oalah handphoneku….!” Pekik batinnya tragis. Zahraa
memungut kepingan handphone itu dan merangkainya kembali, sayangnya memang nasi
telah menjadi bubur basi, ia tak hidup kembali. Zahraa semakin kelimpungan,
saat sadar bahwa ini satu-satunya harta yang tersisa setelah notebook merahnya
pun telah ia jual karena rusak.
Aira mendengar keributan di kamar
Zahraa, dengan merasa bersalah ia datang dan menemukan Zahraa dalam keadaan
kelimpungan. Ia memeluknya dan meminta maaf, “Soleha, kakak gak tau apa yang
sedang engkau benci, kakak tahu engkau sedang marah, tapi jangan begini caranya,
ini merusak sayang. Maafkan kakak jika adik marah ke kakak” Aira berkata dengan
bercucuran air mata.
Zahraa pada awalnya sangat sungkan, dan
ia enggan sekali untuk berkata, perasaannya telah menguasainya untuk membenci
Aira, orang yang dikabarkan telah mengobral aibnya. Tidak!
Namun….
Demi air mata Aira, Zahraa tersadar.
Demi senggukan Aira, Zahraa terlempar
pada kenangan indah.
Bertahun tahun menjalani persahabatan
bersama
Saling menguatkan saat letih…
Saling mengingatkan saat lalai…
Persahabatan mereka telah jauh, indah,
dan memberikan banyak arti yang berharga. Kini ujian datang saat kabar tak
tentu mengacaukan keindahan itu. Aira sadar jika Zahraa masih marah. Ia
membisikkan kata-kata ditelinga Zahraa, yang mungkin Zahraa tak akan bisa
melupakannya sampai kapanpun:
“Dik, kakak menyayangimu karena Allah.”
Perkataan itu seperi mantra. Seperti
api yang bisa melelehkan es, atau seperti matahari yang bisa menerangi bumi. Zahraa
memeluk erat Aira, teringat janjinya dulu, ketika ada masalah diantara mereka
berdua, ia akan menyatakan bahwa ia menyayangi sahabatnya laiknya saudara
bahkan laiknya diri sendiri. Dengan terharu Zahraa, ia mengatakan segala
kekesalannya kepada Aira dengan linangan air mata. Zahraa meluapkan apa yang ia
dengar siang tadi, Aira pun tak bisa lagi menahan dirinya, ia ceritakan jika
perkataan itu bukan miliknya, ia tak pernah berkata begini atau begitu. Zahraa
tergugu, ia merasa dirinya tergesa-gesa menilai Aira, padahal mereka telah
bersama dalam waktu lama. Mengapa masih dengan mudah terhasut? Subhanallah,
astagfirulloh… bukankah kita ini sama?
Aira dan Zahraa kini kembali memulai
ceritanya, tentang mimpi dan cinta mereka pada Rabb.
“Barang siapa yang saling menyayangi
dan mencintai dijalan Allah, bertemu dan berkumpul karena Allah, maka ia
peroleh naungan Allah di hari kiamat kelak.”
Aamiin.
Semoga bermanfaat. Keep CIIs…! (Az).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar