Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Kamis, 07 November 2013

UKHUWAH :)


Bismillah. Segala puji untuk Allah yang Maha Menguatkan, Maha Lembut dan Maha Indah. Solawat salam untuk baginda Rasullulloh Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan umatnya. Aamiin.
Sejenak sebelum melahap cerita dibawah ini, mari berkenalan terlebih dahulu dengan dua tokohnya: Katakanlah Zahraa, seorang mahasiswa di Universitas X. Seorang wanita berumur 18 tahunan. Dan namailah Aira, seorang mahasiswa pula di Universitas X, berumur 19 tahun.
Zahraa diam, dan diam saja. Diam saat perkataan menyakitkan itu menghujam ke dalam lubuk hatinya. Ia tak berespon, wajahnya memang merah, nafasnya tersengal naik turun menahan ketersinggungan jiwanya, matanya panas dan hampir-hampir berbulirkan salju dingin. Ia tak menyangka jika orang yang amat ia percayai bisa berkata seperti itu.
Zahraa menyusuri jalan, mencoba melupakan kejadian yang seharian ini menghimpit pikirannya. Gerimis menyamarkan kesedihannya. Zahraa tak kuat lagi untuk diam,  ia kini berlari sekencang-kencangnya, berlomba dengan hujan yang semakin deras.
Zahraa yang basah kuyup itu tak kuasa lagi menahan perasaannya, ia melupakan jika disekelilingnya ada dua malaikat yang menyaksikannya. Ia terpancing umpan syaiton dalam darahnya yang kian memanas. Kembali, satu-satu perkataan itu semakin jelas terdengar di telinganya,  menampar-nampar kedua pipinya dengan keras. Zahraa yang basah kuyup itu membuka pintu kostan tanpa salam, salam yang biasanya ia lafadzkan dengan ke-khusuk-an.
“Assalamualaikum ukhti soleha?” Sapa sahabatnya Aira.
Zahraa diam saja, ia tak kuasa memandang sahabat yang kini ia jadikan enemy. Aira pun terpesona dengan sikap Zahraa yang tak biasa. Ia langsung paham jika Zahraa sedang tidak baik cuaca hatinya.
Sesampainya dikamar Zahraa menangis sejadi-jadinya, namun tanpa suara. Ia memeluk dirinya yang basah kuyup. Lima belas detik kemudian handphonenya berbunyi. Pesan singkat dari Aira:
“Kenapa soleha? Jangan marah ya.”
 Tanpa piker panjang Zahraa membanting handphonenya kesal, kearah kasur empuk yang biasa ia tiduri setiap malam. Nahasnya handphone itu justru terpantulkan jatuh tepat di bawah lantai kasur. Handphone itu tak bisa membela dirinya, cukup diam dan berkedip berkali-kali dan kemudian mati tak berkutik karena seluruh isi tubuhnya telah tercerai berai.
Zahraa sedikit terkejut, kemudian ia mengambil handphone yang tak lagi bernyawa, ada perasaan menyesal dalam hatinya telah melakukan itu. “Oalah handphoneku….!” Pekik batinnya tragis. Zahraa memungut kepingan handphone itu dan merangkainya kembali, sayangnya memang nasi telah menjadi bubur basi, ia tak hidup kembali. Zahraa semakin kelimpungan, saat sadar bahwa ini satu-satunya harta yang tersisa setelah notebook merahnya pun telah ia jual karena rusak.
Aira mendengar keributan di kamar Zahraa, dengan merasa bersalah ia datang dan menemukan Zahraa dalam keadaan kelimpungan. Ia memeluknya dan meminta maaf, “Soleha, kakak gak tau apa yang sedang engkau benci, kakak tahu engkau sedang marah, tapi jangan begini caranya, ini merusak sayang. Maafkan kakak jika adik marah ke kakak” Aira berkata dengan bercucuran air mata.
Zahraa pada awalnya sangat sungkan, dan ia enggan sekali untuk berkata, perasaannya telah menguasainya untuk membenci Aira, orang yang dikabarkan telah mengobral aibnya. Tidak!

Namun….
Demi air mata Aira, Zahraa tersadar.
Demi senggukan Aira, Zahraa terlempar pada kenangan indah.
Bertahun tahun menjalani persahabatan bersama
Saling menguatkan saat letih…
Saling mengingatkan saat lalai…

Persahabatan mereka telah jauh, indah, dan memberikan banyak arti yang berharga. Kini ujian datang saat kabar tak tentu mengacaukan keindahan itu. Aira sadar jika Zahraa masih marah. Ia membisikkan kata-kata ditelinga Zahraa, yang mungkin Zahraa tak akan bisa melupakannya sampai kapanpun:
“Dik, kakak menyayangimu karena Allah.”
Perkataan itu seperi mantra. Seperti api yang bisa melelehkan es, atau seperti matahari yang bisa menerangi bumi. Zahraa memeluk erat Aira, teringat janjinya dulu, ketika ada masalah diantara mereka berdua, ia akan menyatakan bahwa ia menyayangi sahabatnya laiknya saudara bahkan laiknya diri sendiri. Dengan terharu Zahraa, ia mengatakan segala kekesalannya kepada Aira dengan linangan air mata. Zahraa meluapkan apa yang ia dengar siang tadi, Aira pun tak bisa lagi menahan dirinya, ia ceritakan jika perkataan itu bukan miliknya, ia tak pernah berkata begini atau begitu. Zahraa tergugu, ia merasa dirinya tergesa-gesa menilai Aira, padahal mereka telah bersama dalam waktu lama. Mengapa masih dengan mudah terhasut? Subhanallah, astagfirulloh… bukankah kita ini sama?
Aira dan Zahraa kini kembali memulai ceritanya, tentang mimpi dan cinta mereka pada Rabb.
“Barang siapa yang saling menyayangi dan mencintai dijalan Allah, bertemu dan berkumpul karena Allah, maka ia peroleh naungan Allah di hari kiamat kelak.”
Aamiin.
Semoga bermanfaat. Keep CIIs…! (Az).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar