Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Sabtu, 06 Juli 2013

JADI PEMAAF ITU LEGA


 
Bismillah, sahabat yang berhati-hati dalam bertutur bagaimana kabarnya hati antum semuanya di pekan ini? Mudan-mudahan selalu dalam keadaan yang menggembirakan, senantiasa dalam petunjuk dan keridhaan Allah SWT. Mari kita aminkan bersama. Aamiin.

 Diawali oleh sebuah cerita di sore hari. Rintik-rintik hujan gerimis muram dihatinya, dihati seorang wanita sore itu. Ada banyak pertanyaan yang belum dijawab. Pertanyaan-pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban singkat. Pertanyaan berwujud penyesalan. Wanita itu diam-diam menyeka air bening disudut matanya, ia tengah memendam tangis. Seperti hari-hari sebelumnya, pertanyaan datang bertubi-tubi dari hatinya untuk jiwanya yang harus dijawab, dan ia hanya mampu menjawab dengan tangisan. Hanya itu satu-satunya cara, ia harus menyembunyikan air mukanya yang merah padam karena malu, kemarahan terhadap diri dan malu yang menyeruak berpaduk ria, tatkala seseorang melihatnya cepat-cepat ia ganti dengan senyuman yang dibuat-buat. Mungkin ia memang sangat kebingungan, entahlah marah harus pada siapa,  menyesal harus kepada siapa? Tatkala seorang lain menyapa, ia begitu ceria. Diliriknya kembali pesan singkat di genggamannya “Bagaimana ukhti bisa menjalani dua jalan sekaligus? Kebenaran dan kesalahan jangan dicampuradukan. Hanya orang crazy gila yang melakukan itu.”

Ia tersudut oleh sms yang benar-benar menohok bathinnya. Ia beristigfar tak henti-henti, ada banyak rasa yang berkecamuk di dadanya. Apa yang harus dilakukan dengan hati ini?

Nah sahabatku, bagaimana setelah mendengar cerita diatas? Pernahkah kita mengalami hal yang sama, kebingungan, rasa malu, atau tersudutkan. Right!  Saya yakin kita pernah mengalaminya. Entah itu karena pesan singkat seperti diatas atau karena hal lain yang tak bisa dijelaskan pada manusia (hanya diri dan Allah yang tahu).  Apa yang harus dilakukan oleh kita? Seseorang yang menerima dirinya dengan ikhlaslah yang melihat kehidupan sebagai sarana yang luas yang bisa menghadapi keruwetan itu, kelebihannya dia syukuri, kekurangannya ia maklumi, kesalahannya ia perbaiki dengan sungguh-sungguh. Kunci pertama dari penerimaan diri adalah “memaafkan”.

Siapa bilang memaafkan hanya berlaku dari kita untuk orang lain, siapa bilang memaafkan hanya untuk membebaskan kesalahan orang lain. Apakah diri kita sendiri tidak layak mendapat maaf dari diri sendiri. Justru inilah point penting yang sering terlupakan, sebagai manusia yang penuh khilap dan lupa, memaafkan diri sendiri sebagai awal penerimaan diri adalah sama pentingnya dengan kita memaafkan orang lain. Banyak yang putus asa setelah melakukan dosa, ia menjadi semakin enggan berbalik pada kebaikan (seperti bilang keapalang basah, nanti saja jika sudah berkerudung, atau bilang dosaku sudah tak terampuni), dan melihat seolah dosanya lebih besar daripada ampunan dan rahmat Allah (Naudzubillah), kuncinya satu: ia enggan memaafkan dirinya sendiri, ia tidak melakukan penerimaan diri, ia tidak mengenali hatinya sendiri. Jadi, wahai para pembuat dosa dalam hidup ini, janganlah berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat, sesungguhnya Allah adalah yang paling gembira ketika ada hambanya yang bertaubat, sesungguhnya Allah jika ada hambanya yang mendekatinya dengan berjalan, maka Ia akan mendekati hambanya itu dengan berlari.

Maka maafkanlah dirimu, maafkanlah kealpaanmu, terimalah kesalahan-kesalahanmu, kesalahan yang kamu perbuat dimasa dulu. Setiap orang berhak atas maaf dan pengampunan atas masalalunya. Meskipun memang maaf terhadap diri itu tak akan sedikitpun mengubah masalalu yang memang telah terjadi tapi setidaknya ia mampu menjadikan masa kini dan masa depan jadi mudah dan indah.

 “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS An-Nuur :22)

Sudah jelas bukan? Memaafkan merupakan kunci sikap legowo, lega dan berlapang dada, baik memaafkan diri sendiri maupun memaafka orang lain tentu saja.

Back to topic, setelah berazam dalam hati “Saya mengakui kesalahan saya ini dan ini, dan saya memaafkan kesalahan diri saya itu, saya malu untuk melakukannya lagi, saya tidak akan melakukan ini dan ini lagi, saya telah memaafkan diri saya dan memberinya kesempatan untuk memperbaikinya. Deal!”

Berazzam untuk memaafkan dan memperbaiki diri ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, diikuti permohonan ampun kepada Rabb yang maha menyaksikan, disertai doa dan usaha yag tak henti-henti, semoga kita semua dijadikan orang-orang yang pemaaf, memaafkan diri sendiri dan orang lain, agar cinta kasih Allah selalu menyertai.

“Jangan menghakimi seseorang karena masalalunya, karena ia berhak untuk membuktikan kesungguhannya menjadi pribadi yang baik dari waktu ke waktu.”

“Berhentilah membenci masalalumu karena ia telah berlalu, hadapilah masa kini dengan tenang dan pengharapan pada Tuhan, karena  masa kini ia adalah emas baru yang jangan kau siakan karena emas kemarin yag hilang murninya”

“Maafkanlah dirimu seperti kamu berusaha memaafkan kesalahan saudaramu. Maklumi kedunguanmu degan rasa  rendah sebagai makhluk yang papa. Sungkurkan wajahmu untuk mendapat kembali cinta Allah, beristigfarlah dengan sungguh-sungguh…”

“JADI PEMAAF ITU LEGA, melegakan hati, melegakan masalah yang dihadapi, melegakan orang lain, melegakan masadepan, melegakan dunia!”

Sahabat sebagai penutup tulisan ini, mari kita saling memaafkan sebelum Ramadhan datang, memaafkan diri, dan memaafkan semua orang yang telah menyakiti kita. Mari kita bebaskan hutang mereka dengan maaf yang tunai: LUNAS!

Nabi Muhammad Shalallahu bersabda kepada Uqbah  ; “Ya Uqbah  maukah engkau kuberitahukan  tentang akhlak penghuni dunia akhirat yang paling utama? “Apa itu Ya Rasulullah? . “Yaitu  menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya  kepadamu, memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu “ (HR Al-Hakim dari Uqbah bin Amir Al-Juhani ).

Semoga bermanfaat, mohon ingatkan jika banyak salah dan hilap, sebagai manusia yang hina penulis minta selalu di doakan agar tulisan ini dijadikan pengingat dikala penulis didera kedzaliman diri. Aamiin. Jazakallah. AZ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar