Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Rabu, 11 September 2013

Nikmatnya Berwudhu




Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Bismillahirrohmanirrohim.

Mentari pagi yang hangat sebentar lagi akan menyapa, ia hendak meleraikan benang-benang kusut kabut. Atau melemahkan udara yang dingin dan gigil. Aku membasuh wajahku, setiap bulir air yang masuk ke pori dan jatuh di ubin kamar mandi ini aku rasakan.  Setiap dentingnya adalah harmoni. Tiap tetes memiliki frekuensi yang berbeda, ia jatuh dari ketinggian yang tak sama dan dalam volume yang bervariasi. Dan aku merasakan setiap tetes yang jatuh itu masing-masing membawa muatan, rasa sakitku, ketakutanku, kealfaanku, keegoisanku. Muatan itu diambil dari setiap lekuk tubuh yang dilalui air. Air kehidupan. Aku telah terlahir lagi menjadi lebih pantas untuk menghadapkan diri, menghambakan diri, bertekuk lutut dengan takzim pada Nya. Dingin segar. Keindahan. Kesejukan.

Sahabatku yang budiman, yang ridho pada ketentuan Allah, dan Allah pun ridho padanya. Paragraf pengantar diatas memperlihatkan pada kita mengenai kenikmatan seorang hamba tatkala berwudhu. Ia begitu merasa nikmat saat air menyentuh kulitnya yang kedinginan. Akh, Ukh, pernahkah kita merasa demikian? Merasakan kenikmatan berwudhu?

Kulihat diriku terburu menyeduk air, atau sekedar menampung air ditangan dan lantas menyapukannya diwajah, tangan, rambut, dan kakiku. Sekedar menggugurkan kewajiban bersuci. Sekedar meniru kebiasaan para orang tua. Sekedar dan ala kadarnya. Pikiran, hati dan jiwaku tak bertemu, ia berlainan alam. Dan bahkan sering lupa untuk berdoa diawal dan akhir. Bahkan menyelinginya dengan bercakap dengan sejawat. Ah….

Sahabatku, pernah terdengar olehku bahwa kelak seorang muslim akan dikenali dari bekas-bekas sujud dan wudhunya, wajahnya berperpendar cahaya berkilau. Dalam sebuah hadist dianalogikan oleh Rasululloh seperti kuda putih bersih diantara kuda hitam, dapatkah ia dibedakan? Tentu saja.
Pada awalnya semua muslim yang terlahir kedunia ini seperti kuda putih. Berjalannya waktu memberi kemampuan pada kuda putih itu untuk berlari dengan tangkas, menjelajahi belantara. Ada kalanya ia terperosok, tersaruk, terjebak di kubangan lumpur yang hitam, terjerat dunia dan keindahannya. Tubuhnya tak lagi putih. Ia harus mandi, bahkan mandi lima kali sehari karena kotorannya yang lengket dan menjijikan. Namun ia mandi tanpa memakai sabun. Ia mandi dengan hanya “cukup kena air”. Mungkinkah kuda itu masih terlihat bersih dan putih? Mungkinkah kuda putih itu masih bisa terlihat putih? Mungkin ia abu-abu, atau bahkan tetap hitam, dan bahkan jika-tidak mandi. Hitam, degil, bau. Pantaskah ia dimasukan pada padang savana yang sejuk nan indah? Heumm…
Kini mari kita tela’ahi wudhu kita, telah sempurnakah? Wudhu yang bersandar pada ke-cintaan hamba pada Rabbnya, berlandas ilmu yang benar, dan penghayatan yang besar. Menyadari jika suatu saat, air-air itu akan bersaksi. Menyadari jika kulit-kulit yang tersentuhnya pun akan bersaksi. Ia telah memuliakan seorang hamba, ia telah mensucikan seorang hamba. Kotoran tubuh dan jiwa manusia yang ia putihkan, telah ia samarkan di tanah gersang. Menjelma-lah kuda putih, berwudhu dengan tumaninah, dan solatlah dengan penuh berkah. Aamiin.
Sahabat ini sekedar pengingat diri sendiri, mudah-mudahan bisa diambil ibrohnya oleh semua. AZ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar