Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat
untuk orang lain. Bismillahirrohmanirrohim.
Mentari pagi yang hangat
sebentar lagi akan menyapa, ia hendak meleraikan benang-benang kusut kabut.
Atau melemahkan udara yang dingin dan gigil. Aku membasuh wajahku, setiap bulir
air yang masuk ke pori dan jatuh di ubin kamar mandi ini aku rasakan. Setiap dentingnya adalah harmoni. Tiap tetes
memiliki frekuensi yang berbeda, ia jatuh dari ketinggian yang tak sama dan
dalam volume yang bervariasi. Dan aku merasakan setiap tetes yang jatuh itu
masing-masing membawa muatan, rasa sakitku, ketakutanku, kealfaanku,
keegoisanku. Muatan itu diambil dari setiap lekuk tubuh yang dilalui air. Air
kehidupan. Aku telah terlahir lagi menjadi lebih pantas untuk menghadapkan
diri, menghambakan diri, bertekuk lutut dengan takzim pada Nya. Dingin segar.
Keindahan. Kesejukan.
Sahabatku yang budiman, yang ridho pada ketentuan
Allah, dan Allah pun ridho padanya. Paragraf pengantar diatas memperlihatkan
pada kita mengenai kenikmatan seorang hamba tatkala berwudhu. Ia begitu merasa
nikmat saat air menyentuh kulitnya yang kedinginan. Akh, Ukh, pernahkah kita
merasa demikian? Merasakan kenikmatan berwudhu?
Kulihat diriku terburu menyeduk
air, atau sekedar menampung air ditangan dan lantas menyapukannya diwajah,
tangan, rambut, dan kakiku. Sekedar menggugurkan kewajiban bersuci. Sekedar
meniru kebiasaan para orang tua. Sekedar dan ala kadarnya. Pikiran, hati dan
jiwaku tak bertemu, ia berlainan alam. Dan bahkan sering lupa untuk berdoa
diawal dan akhir. Bahkan menyelinginya dengan bercakap dengan sejawat. Ah….
Sahabatku, pernah terdengar olehku bahwa kelak
seorang muslim akan dikenali dari bekas-bekas sujud dan wudhunya, wajahnya berperpendar
cahaya berkilau. Dalam sebuah hadist dianalogikan oleh Rasululloh seperti kuda
putih bersih diantara kuda hitam, dapatkah ia dibedakan? Tentu saja.
Pada awalnya semua muslim yang terlahir kedunia ini seperti kuda
putih. Berjalannya waktu memberi kemampuan pada kuda putih itu untuk berlari
dengan tangkas, menjelajahi belantara. Ada kalanya ia terperosok, tersaruk,
terjebak di kubangan lumpur yang hitam, terjerat dunia dan keindahannya.
Tubuhnya tak lagi putih. Ia harus mandi, bahkan mandi lima kali sehari karena
kotorannya yang lengket dan menjijikan. Namun ia mandi tanpa memakai sabun. Ia
mandi dengan hanya “cukup kena air”. Mungkinkah kuda itu masih terlihat bersih
dan putih? Mungkinkah kuda putih itu masih bisa terlihat putih? Mungkin ia
abu-abu, atau bahkan tetap hitam, dan bahkan jika-tidak mandi. Hitam, degil,
bau. Pantaskah ia dimasukan pada padang savana yang sejuk nan indah? Heumm…
Kini mari kita tela’ahi wudhu kita, telah sempurnakah? Wudhu yang
bersandar pada ke-cintaan hamba pada Rabbnya, berlandas ilmu yang benar, dan
penghayatan yang besar. Menyadari jika suatu saat, air-air itu akan bersaksi.
Menyadari jika kulit-kulit yang tersentuhnya pun akan bersaksi. Ia telah
memuliakan seorang hamba, ia telah mensucikan seorang hamba. Kotoran tubuh dan
jiwa manusia yang ia putihkan, telah ia samarkan di tanah gersang. Menjelma-lah
kuda putih, berwudhu dengan tumaninah, dan solatlah dengan penuh berkah.
Aamiin.
Sahabat ini sekedar pengingat diri sendiri, mudah-mudahan bisa diambil
ibrohnya oleh semua. AZ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar