Jangan kaget kalo apa
yang kamu baca, kamu dengar, dan kamu lihat nyaris semuanya dikendalikan kaum
Yahudi. Nggak percaya? Di jalur media massa ini, Yahudi berhasil menyebarkan
informasi yang cenderung menguntungkan mereka, baik dari segi bisnis maupun
politis. Koran, majalah, tabloid, radio, bahkan televisi dan perusahaan film di
Amerika di bawah kendali Yahudi. Jaringan mereka pun tersebar luas di seluruh
dunia. Mantan wartawan Jawa Pos biro Washington DC, Djoko Susilo yang pernah
tinggal di Amerika selama 4 tahun mengaku bila hampir semua media massa yang
berpengaruh di Amerika semuanya dipegang orang-orang Yahudi. Walah?
Kartel Opini
Tercatat beberapa media
yang berada di bawah kontrol Yahudi; The New York Times (terbit sejak 1941),
The Wall Street Journal, dan The Washington Post. The Times (Inggris), The
Daily Express, The News Chronicle, The Daily Mail, The Observer, The Mirror,
koran The Sun dan The Times yang dimiliki Rupert Murdoch, mantan warga Australia
yang pernah mendapat hadiah Bintang David, sebuah penghargaan tertinggi yang
disampaikan oleh warga Yahudi-Israel. Selain itu ada juga Majalah Time,
Newsweek, U.S. News & World Report. Di bawah payung perusahaan Time Warner
Communication yang dipimpin seorang Yahudi bernama Gerald Levin, Majalah
mingguan Time, mencapai sirkulasi hampir 4,1 juta. Newsweek, di bawah orang
Yahudi bernama Katherine Meyer Graham telah memiliki sirkulasi mencapai hampir
3,2 juta eksemplar.
Fu`ad bin Sayyid
Abdurrahman ar-Rifa’i dalam bukunya Yahudi dalam Informasi dan Organisasi,
menunjukkan bagaimana kaum Yahudi memperkuat pengaruhnya lewat dominasi kantor
berita, media massa, perfilman, keuangan dan lembaga dunia. Kantor berita
terbesar dunia, Reuters, dibangun keturunan Yahudi, Julius Reuters. Kantor
berita besar lainnya, Associated Press, International News Service dan United
Press International, juga dimiliki orang Yahudi. Bahkan, surat kabar yang tidak
terlalu besar pun, seperti The Sunday Times, The Chicago Sun Times dan The City
Magazine, tidak mereka lepaskan.
Selain media cetak,
beberapa konglomerat Yahudi berhasil merambah dunia broadcasting. Di jalur ini
ada American Broadcasting Companies (ABC), Columbia Broadcasting System (CBS),
National Broadcasting Company (NBC), dan Cable News Network (CNN). Dunia
hiburan yang masih ada hubungan dengan media massa juga nggak dilepaskan dari
kontrol Yahudi. Jajaran pengusaha top bisnis hiburan di Hollywood tercatat
sebagai bagian dari jaringan media Yahudi. Sebut saja Perusahaan film Fox
Company milik William Fox, Golden Company (Samuel Golden), Metro Company (Lewis
Mayer), Warner & Bross Company (Harny Warner), serta Paramount Company
milik Hod Dixon, merupakan perusahaan film yang punya pengaruh besar di
bidangnya.
Bukan hanya itu, di AS
hampir 90% pekerja film mulai dari sutradara, produser, editor, artis, dan
krunya adalah orang-orang Yahudi. Luasnya keterlibatan orang-orang Yahudi di
industri ini membuktikan bahwa mereka sangat mendominasi perfilman Amerika dan
bahkan dunia.
Konglomerat hiburan
terbesar saat ini seperti Walt Disney Company, dipimpin oleh seorang Yahudi
bernama Michael Eisner (CEO), Disney memiliki beberapa anak perusahaan dibidang
stasiun televisi. Misalnya Walt Disney Television, Touchstone Television, Buena
Vista Television. Untuk film, Walt Disney memiliki Walt Disney Picture Group
yang dikepalai oleh Joe Roth, seorang keturunan Yahudi. Termasuk juga
Touchstone Pictures, Hollywood Pictures, dan Caravan Pictures. Disney juga
memiliki Miramax Films. Wah, wah, wah.
Sobat muda, jaringan
mereka cukup kuat juga. Di bisnis penerbitan buku, tercatat ada tiga penerbit
kaliber raksasa dan cukup berpengaruh; Random House, Simon & Schuster, dan
Time Inc. Book Co. Semuanya dimiliki pemodal Yahudi. Pimpinan eksekutif Simon &
Schuster, Richard Snyder dan ketuanya Jeremy Kaplan, keduanya orang Yahudi.
Malah di luar penerbit yang tiga di atas, Western Publishing tercatat ada pada
peringkat paling atas, yang menerbitkan buku-buku untuk anak-anak, dengan
pangsa pasar yang dikuasainya 50 persen dari pangsa pasar buku untuk anak-anak
yang ada di dunia. CEO Western Publishing adalah Richard Bernstein, seorang
Yahudi.
Celakanya bagi kita,
media massa di berbagai negara kerapkali mengambil media-media massa besar
tersebut sebagai rujukan beritanya. Termasuk di negeri ini tentunya. Hasilnya,
opini yang berkembang jadi seragam. Bener lho. Gimana nggak seragam, wong yang
diambil dari sono kok. Ambil contoh, media cetak di negeri kita aja suka
mencantumkan sumbernya, seperti dari Reuters, CNN, AP dan lain sebagainya.
Emang sih nggak semuanya media massa dikuasai Yahudi. Tapi gaswatnya, justru
yang besar dan berpengaruh yang dimiliki mereka. Jadi, mau nggak mau kudu nelan
mentah-mentah informasi yang diberikan mereka. Dan inget lho, film-film yang
ditayangkan di televisi or di layar lebar di seluruh dunia, juga nggak lepas
dari muatan yang dipesan oleh kalangan Yahudi. Paling nggak, hal itu akan
mempengaruhi penilaian kita dalam menerima informasi. Apalagi kemasannya begitu
memikat.
Tak salah jika George
Gerbner dalam bukunya Mass Media and Human Communication Theory (1967)
menyebutkan, komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan
teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang
dalam masyarakat industri.
Media
massa sebagai agent of change
Mc.Luhan, penulis buku
Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah
perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh
informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau
belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media
massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh
tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar
pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping� lebih banyak menyajikan
berbagai berita tentang “darah dan dada� (blood and breast) dari pada
tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak
sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang,
kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa
yang dilaporkan media massa.
Televisi misalnya, kerap
kali menyajikan tayangan kekerasan, dan itu membuat pemirsa televisi menganggap
bahwa dunia ternyata lebih keras. Begitu pula ketika sebuah film ditonton, yang
biasanya dengan misi tertentu dari pembuatnya, akan memberikan kesan tersendiri
bagi penontonnya. Film Eraser misalnya, film laga yang dibintangi mantan
binaragawan asal Austria, Arnold Schwarzenegger menyisipkan pesan sekilas bahwa
Hamas di Palestina adalah Teroris. Bisa diduga akibatnya, jika kemudian opini
masyarakat tentang Hamas menjadi jelek. Belum lagi Film Schindler’s List
besutan sutradara berdarah Yahudi, Steven Spielbergh, yang juga pernah
menyutradarai film Jurassic Park, berhasil memanipulasi perasaan
masyarakat dunia. Lewat film tersebut, kebencian terhadap kaum Yahudi berubah
menjadi empati dan simpati. Inilah kekuatan sebuah media massa. Dahsyat!
Kamu pernah nonton
sekuelnya film James Bond, yang berjudul Tomorrow Never Die? Nah, kisah dalam
film itu kian menegaskan bahwa media massa benar-benar sebagai agent of change,
alias agen pengubah. Bahkan di sinilah perang informasi bisa diwujudkan. Di
film itu, Cina dan Inggris hampir saja perang, karena surat kabar Tomorrow
menurunkan laporan terjadinya penembakan kapal perang Inggris oleh pesawat
tempur Cina dan sebaliknya. Padahal, semua itu direkayasa oleh Tomorrow. Selain
tujuan bisnis, ia juga mempunyai misi bahwa media memang efektif juga untuk
memicu ketegangan. Ujungnya, meraih keuntungan secara politis.
Jadi nggak heran juga
jika majalah TIME, dalam situs internet time.com edisi 17 September 2002
menurunkan berita yang menghebohkan tentang pengakuan Omar al-Faruq mengenai
adanya jaringan terorisme al-Qaidah di Indonesia. Pada waktu bersamaan, CNN.com
edisi 17 September 2002 menurunkan dua berita sekaligus, yaitu tentang adanya
gerakan Islam fundamentalis di Asia Tenggara untuk mendirikan Super State dan
berita tentang rincian operasi al-Qaidah dalam rangka memperluas jaringannya di
Asia Tenggara.
Bagaimana dengan
tanggapan masyarakat? Ada yang percaya, tapi tentu ada juga yang menganggapnya
bahwa berita itu adalah akal-akalannya pemerintah AS yang memiliki link kuat
dengan media-media berpengaruh di dunia tersebut. Celakanya, penentu kebijakan
di negeri ini seperti kerbau dicocok hidung, mau aja ngikutin pesan (baca:
tekanan) dari AS via informasi tersebut yang emang lagi bernafsu dalam kampanye
memerangi apa yang mereka sebut sebagai terorisme.
Dalam kondisi seperti
ini, media memang menjadi corong untuk membangun dan membentuk opini. Gawatnya,
jika opini tersebut sudah diseleksi (baca: diplintir) oleh pihak yang
berkepentingan untuk mewujudkan keinginannya. Hasilnya, media massa telah
berubah menjadi ancaman yang sangat mengerikan.
Tradisi mengubah persepsi
berlaku juga dalam tataran dunia hiburan. Kita tahu betapa gencarnya rumah
produksi di Hollywood yang rata-rata dikuasai Yahudi, telah memberikan gambaran
yang buruk kepada kita, kaum muslimin. Kalangan Yahudi punya semboyan: Kita
tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang
kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol
terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka? (Henry Ford, Sr., The
International Jew: The World Foremost Problem)
Perlukah
media tandingan?
Hmm! kalo begini
ceritanya, genderang perang baru sudah ditabuh. Sekarang, saatnya perang opini.
Tentunya, jika kita melihat fakta, pastinya bakalan keder duluan dengan
hegemoni dari kartel opini Yahudi. Mereka ada di mana-mana, dan menyerang
secara sistematis. Nyaris tak ada sasaran yang kelewat. Mulai dari pasar
anak-anak, remaja, sampe dewasa. Lengkap. Dan harap diinget bahwa semuanya
berpotensi untuk mengubah cara pandang dan penilaian kita terhadap perkembangan
yang ada. Tentunya setelah mereka menyeleksi pesan apa yang diinginkan sesuai
dengan kepentingannya sebelum disebar ke pembacanya dan pemirsanya.
Kalo setiap hari kita
menelan mentah-mentah info yang disebar kartel opini Yahudi, maka nggak usah
kaget kalo kita kemudian jadi terpengaruh dengan opini yang dikembangkan
mereka. Sementara upaya untuk membendung kekuatan jaringan opini Yahudi nyaris
kepayahan. Bukan apa-apa, media kita, Islam, jauh lebih sedikit dan kalah
canggih ketimbang media yang dimiliki Yahudi. Tapi tentunya tidak melemahkan
semangat kita untuk menandinginya. Kita justru tambah semangat.
Memang sih pengennya,
atau idealnya kita punya juga media tandingan. Untuk mewujudkannya, bisa aja
para konglomerat muslim menginvestasikan dananya untuk penerbitan media Islam.
Memang bukan hal mudah, buktinya sampai sekarang para investor atau orang-orang
Islam yang kaya mungkin kurang begitu peduli dengan urusan kayak begini.
Mungkin juga karena mereka menganggap media Islam itu tidak menjanjikan
keuntungan bagi mereka. Kalau itu permasalahannya, kan bisa dicari formula
bacaan yang tepat dan juga manajemen yang profesional. Lagipula, untuk urusan
dakwah bukankah keikhlasan dan keseriusan menjadi prioritas?
Kalo hal itu masih dirasa
sulit juga, barangkali yang paling mungkin dilakukan dalam tataran solusi
praktis adalah memilih dan memilah informasi. Namun hal ini pun nggak begitu
mudah, kalo kita nggak punya filter. Apa filternya? Kita kudu mengetahui mana
yang salah mana yang bener. Singkatnya begini deh, selalu merujuk kepada Islam.
Dan tentunya ketika mendapat info, jangan langsung telen aja. Sebaliknya kudu
selalu curiga terhadap info yang disebar media asing (baca; bukan Islam).
Memang sih, kalo pengen
benar-benar optimal, yang harus kita lakukan adalah menggalang kekuatan bersama
dari seluruh kaum muslimin di dunia ini untuk membangun kesadaran dalam
menyatukan pikiran dan perasaan, serta aturan. Kapan dimulainya? Sekarang dong?
Jadi, mari ubah individu dengan melakukan perubahan terhadap masyarakat. Kita
bangun kembali masyarakat Islam dalam sebuah negara yang akan mampu melawan
seluruh hegemoni kekuatan asing; tidak saja Yahudi, tapi seluruh kekuatan yang
menghalangi Islam bakalan dilibas.. bas..bas. Yes, we are the champion my
friends!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar