Bismillah. Hallo sahabat, assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, bagaimana kabarnya minggu ini? Masih bersemangatkah menjadi hamba Allah yang soleh dan solehah?
Right! Dibulan yang indah ini ana kembali membawa oleh-oleh. Bukan lagi Ada Apa Dengan Hati (AADH) ya, oleh-oleh ini tentang bagaimana kita menjadi pribadi utuh dengan ilmu. Waduh kok memang ada ya pribadi yang nggak utuh?
Pribadi yang utuh, tidak setengah-setengah, tidak plin-plan, tidak berubah, lurus, istiqomah dan panceg! Awalnya siang itu, saat matahari hampir diubun-ubun, ada seorang A yang mengatakan dengan jujur tentang sikap seorang B sahabatnya, tanpa hujan tanpa petir tanpa mendung sebelumnya langsung to the point: “B, kamu itu kaya anak kecil gak dewasa, gak punya kepribadian.”
Sontak saja si B menatap si A dengan pandangan nanar, ia merasa ada rasa sakit didadanya karena merasa terpojokkan, skak mate, tertembak dengan telak mengenai organ vitalnya, jantung hati: 1. Kaya anak kecil, 2. Gak dewasa, 3. Gak berkepribadian. Tiga cap sekaligus? Hiks!
Mungkin mendengar itu kita bisa mengira dalam hati si B berkata, “Hallo, apa salah aku sama kamu? Kok tega banget nilai aku kayak gitu! Coba jelasin apa maksudnya bilang aku kaya anak kecil, gak dewasa, gak punya kepribadian? Emang kamu? Dan bla bla bla…..”
Namun tiba-tiba si B malah tersenyum dan bilang, “Eum makasih sayang, kamu udah merhatiin aku, love you karena Allah dech.” Dia berkata sambil meluk sahabatnya itu.
Weleh, sejuk banget ya ngebayanginnya. Bagaimana si B menanggapi kritikan itu dengan lapang dada dan malah berterimakasih, apa ceritanya?
1. Kaya anak kecil. Anak kecil itu polos, lugu, berpikir operasional konkrit, jujur, apa adanya, ingin tahu yang tinggi, dan tak pernah putus asa. Seorang manusia dewasa sekalipun berasal dari seorang bocah kecil. Kenapa sakit hati dibilang kaya anak kecil, anak kecil itu imut, cute! Thanks!
2. Gak dewasa, gak papa biar gak cepet tua, hehehe….
3. Gak berkepribadian. Lagi mencoba berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Maksudnya pasti aku nggak berkperibadian buruk….
Ternyata mereka adalah sahabat yang telah saling memahami, seorang A mengatakan demikian dengan ekspresi dan intonasi penuh kasih dan seorang B meresponnya dengan intonasi dan ekpresi penuh rasa sayang, mereka berusaha saling menguatkan ketika jiwa lemah membumi, mengingatkan kala tekad kuat melangit, sama-sama berilmu dan tidak mudah tersinggung dengan kata-kata. Sejuta alasan untuk membesarkan hati dan tetap ber-khusnudzon think pada ucapan-ucapan orang disekitarnya.
Kadang ucapan itu sepele tapi dampaknya luar biasa. Setiap kata yang kita dengar dan terima, kemudian kita respon: banyaknya respon spontan ya? Memberikan banyak perubahan dalam kehidupan, seperti jawaban ya atau tidak. Jarang kita mempertimbangkan apa yang akan diucapkan atau memilih diam saja. Padahal ini yang paling banyak membentuk sikap, respon yang dilisankan, pilihan yes or no, menerima atau menolak, dan lain-lain.
Pernah dengar tidak, manusia itu ibarat teko. Apa yang ia ucapkan itulah isi hatinya. Teko isinya teh yang keluar juga air teh, teko isi susu yang keluar juga susu. Jika seorang manusia hatinya lembut yang keluarnya juga apa? Gak mungkin dong nyakitin orang dengan perkataan kasar atau intimidasi dan berbagai istilah lainnya.
Bersedia? Kita mulai masuk pembahasan yang sebenarnya. Sesungguhnya menginginkan kepribadian utuh dengan ilmu itu ibarat kita mau memasukan susu kedalam teko yang sudah berisi teh. Tak ditampikan bahwa dalam setiap diri manusia pasti ada kejelekan-kejelekan sikap, baik kejelekan yang disembunyikan maupun yang telah Allah nampakan pada orang lain. Astagfirulloh ya Rabb. Ayo kita ingat-ingat kejelekan apa yang telah kita lakukan, yang bila orang lain tahu kita malu? Misal dijalan kita menemukan uang seribu, karena kebetulan gak punya ongkos, dari pada cape-cape nyari orang yang hilang uang lebih baik pakai ongkos aja, toh cuma seribu. Walah-walah? Dosa nggak mengenal cuma. Atau berbohong pada orang tua, guru, sahabat, nyontek dan lain-lain. Ingat-ingat. Udah ingat? Kalo gak ingat, lain kali tuliskan ya. Kita mau kejelekan itu jadi kebaikan, gimana caranya?
Sebentar, mau bertanya dulu, biar gak pada ngantuk!
Acungkan tangannya ya! Siapa yang mau punya karakter gampang marah? Siapa yang mau punya sikap sensitive? Ana tebak jawabannya: Gak mau dong.
Terus ada yang balik nanya. “Tapi kalo udah melekat gimana cara membuangnya? Gak mau jadi orang pemarah, tapi ini udah jadi adat susah dibuang? Mau gimana lagi? Mau kaffah! Tapi…?”
Sabar ea satu-satu dulu. Pertama akui dulu dech kalo kita itu gampang marah (jangan terprovokasi sama orang lain juga). Kedua usahain biar seharian jika ada yang bikin marah kita focus berkonsentrasi untuk tersenyum, misal dari pagi sampai siang berhasil tidak marah, siang sampai sore berhasil tidak marah, sore sampai malam berhasil tidak marah juga, jadi seharian gak marah? Prestasi!!! Lakukan setiap hari! Usaha yang ke-tiga biasakan senyum, senyum itu ibadah, kebaikan, sodaqoh, asal senyuman yang tulus dan bukan senyum-senyum sendiri, senyum sinis, dan senyum-senyum sejenis lainnya yang berbahaya bagi kesehatan jiwa.
Kembali lagi ke teko. Teko yang berisi teh, mau disulap biar teko itu ketika dituang kecangkir keluarnya jadi susu? Ini dia racikan khususnya, formula utamanya adalah teh x susu x gula= teh susu.
Bagaimana jika ditambah dengan madu? Jadi madu x teh susu x teguk = iman x ilmu x amal = kepribadian utuh. (Orang matematik harus pada ngerti ya? Yang bukan anggap mengerti saja).
Formula yang pertama. Kejelekan yang diakui, disiasati agar tidak mendominasi, dan diredam dengan kebaikan-kebaikan akan menjadikan teh itu senikmat susu.
Formula kedua. Teh susu diberi madu dan diteguk bagaimana rasanya? Pribadi utuh itu bagaimana terlihatnya? Pribadi hasil kombinasi dari keyakina pada Allah dilipat gandakan keyakinan itu dengan pengetahuan dan disempurnakan dengan ikhtiar perbuatan. Seseorang yang memiliki kepribadian kaffah jika ia senantiasa berusaha membuka hatinya untuk menerima ilmu dan hikmah menuju perubahan yang lebih baik, memperbarui iman dan membaguskan amalnya. Berusaha sepenuh hati agar dirinya senantiasa berada dalam ridho Allah, sekali lagi bukan berusaha sepenuh hati agar dinilai baik dimata manusia!
Orang terhormat karena ilmunya, sesungguhnya Allah menaikan derajat orang yang berilmu. Muslim muslimah cerdas beriman berilmu dan beramal insya Allah membentuk pribadi dirinya yang penuh syukur, qonaah, rendah hati, dan utuh, tidak lagi berubah-berubah karena sesuatu. Jadi siapa yang mau berkepribadian utuh? Ayo menuntut ilmu.
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S. Al-Mujadilah, 58: 11)
Mohon maaf bila tidak sistematis, melantur kemana-mana, namun mudah-mudahan bermanfaat. Wallohu ‘alam bissawab. Kebenaran datangnya dari Allah SWT saja, Maha Penyayang Lagi Maha Pengampun.
A.Z.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar