Cerdas-Ikhlas-Istiqamah

Kamis, 16 Mei 2013

Urgensi Tarbiyah
Ust. Wahyudin
Tak Bisa Mengubah Jika Tak Berubah

Kamis 16 Mei 2013, Di Masjid At-tarbiyah pukul 13.30 WIB telah dilaksanakan kegiatan “Famili Day”  yang biasa dilakukan dua minggu sekali atau biasa di kenal mahasiswa UPI Tasikmalaya dengan sebutan NGANTIN (Pengajian Rutin).  Tema ngantin kali ini membahas mengenai “Urgensi Tarbiyah”, kegiatan ini dibuka dengan ungkapan menggugah dari  pemateri “Tak bisa mengubah jika tak berubah”  peserta dibuat terpana dengan ungkapan ini. Memang benar kita –lah yang harus menciptakan suatu perubahan dimulai dari diri kita sendiri dan pada akhirnya bisa berdampak pula untuk orang lain.
Apa ya urgensi tarbiyah itu? Betapa pentingnya tarbiyah/pendidikan atau menuntut ilmu. Pendidikan apa? Menuntut ilmu yang bagaimana? Pendidikan apapun, ilmu apapun,  yang muslim dan muslimah perlukan untuk mengahadapi kehidupan ini untuk mempersiapkan hidup kekal di akhirat. Di sela-sela penyampaian urgensi tarbiyah, pemateri pun menyampaikan pesan dan doanya “Semoga kita termasuk orang-orang yang ingin terus berusaha memperbaiki diri dengan tarbiyah ini. Senantiasa berjuanglah dijalan Allah agar kelak Allah mermudahkan urusan dan keperluan kita. Aamiin.”
Mengapa tarbiyyah itu urgent? Untuk menghadapi perubahan-perubahan yang kian hari kian cepat, umat membutuhkan pengetahuan, skill/kemampuan, dan sikap yang kuat. Tarbiyyah penting apalagi ketika kita telah berkomitmen menginginkan perubahan besar maka tantangan yang akan dihadapipun besar, maka untuk menghadapi tantangan itu diperlukan sikap dan bekal yang luar biasa.  
Adanya dimensi untuk berubah:
a. Dimensi ruhiyah (ruhani)
b. Dimensi fikriyah (akal)
c. Dimensi jasadiyah (fisik)

Tarbiyah pun penting karena ia adalah kunci atau Poros dari sebuah Perubahan  yang Besar. Porositu terbagi dalam poros-poros lain, yakni Poros pertama  adanya Perubahan individu objek dakwah. Proses kedua, Perubahan komunitas. Poros ketiga, perubahan terletak pada perubahan ahlak individunya. Akhlak ini yang menjadi pangkal segalanya.

Ada sedikit pesan yang mesti kita renungi bersama: “Nahnu du’at qobla kulla syai’in”
Jadilah da’i sebelum menjadi apapun. Apapun propesi kita, naik guru, polisi atau apapun tetaplah berdakwah kapanpun dan dimanapun berada.  Berdakwah dengan semampunya dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Aamiin
Sebuah hadits yang mashur ini “Barang siapa melihat kemungkaran, maka perbaikilah dengan tanganmu. Kalau tidak bisa dengan tangan, perbaikilah dengan lidahmu. Kalau tidak bisa juga, maka perbaiki dengan hatimu. Tapi itu tanda selemah-lemahnya iman”.  Tetaplah berlomba-lomba dalam kebaikan!
Tahukah balasan disis Allah bagi orang yang senantiasa mengajak orang lain sehingga mendapatkan cahaya islam??
 “Demi Allah jika Allah memberikan hidayah (kepada) seseorang dengan perantaramu itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah” (HR. Bukhori Muslim)
Wow, siapa yang mau unta merah?


Wah ngantin kali ini memang penuh dengan inspirasi. Di akhir kegiatan sempat pula disampaikan tentang target tarbiyah, yakni aktualisasi islam.
Tahap pengaktualisasi islam
1.      Afiliasi : memahami dengan baik alasan kita memilih islam sebagai agama dan jalan hidup sehingga menjadikan hamba yang shalih dengan berpegang pada komitmen.
           Komitmen: aqidah (the way of life), syariah (life style), sikap (habit).

2.      Partisipasi (menjadi da’i) :  Mengakar pada emosi kita.
Tahapan menjadi da’i
·  Sense in-group
“siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia bukan dari golongan mereka”.
·  Memiliki social humaniora.
seperti yang dikatakan oleh Annis mata: seorang dakwah harus menguasai tiga ranah ilmu yakni Sejarah, sastra dan geografi
· Mengetahui dan menguasai pada peta dan lingkungan medan yang kita kuasai. Jangan sampai terbawa arus.

3.      Berkonribusi, yakni orang yang mampu mengorban jiwa dan raga untuk-Nya. Menjadi mujahidin merupakan cita-cita tertinggi seorang muslim. Kelak golongan pertama yang dipersilahkan memasuki syurga-Nya ialah golongan ini.

Nah kita termasuk pada tahap yang mana ya?
Optimis kita bisa berjuang di jalan-Nya dengan cara kita masing-masing,


Kalau ngnatin berikutnya tentang apa yaa?
Don’t forget untuk hadir di acara Family Day or Ngantin berikutnya yaaaa…..

Fastabiqul Khoirot....
 Semoga Bermanfaat. (Ra).
Salam CIIs,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar